Jumat, 23 Desember 2011

kemuning

asap yang berbau sangit masuk perlahan menyusupi kolong pintu kamarku. adzan subuh membangunkan khayalku dari alam mimpi liarku.

"kemuniiiiiing, tangi nduuuk, sholat subuh", teriak seorang wanita tangguh, dengan semburat rasa lelah yang ia sembunyikan dariku. dia yang mengajariku bertahan walau tanpa sentuhan kekar dari sang ayah. dia yang kusebut emak, sekaligus bapak.

ah, lagi-lagi kata bapak yang membuat nafasku sesak. keringat dingin terus mengalir, kerongkonganku terasa kering, dan berujung pada air mata yang keluar dari mata ini. aku terlanjur sayang dengan beliau, sampai detik ini aku tak bisa merelakannya pergi begitu saja ke alam yang kekal meninggalkan sejarah di dunia fana ini. rasa sayang ini juga selaras dengan kebencianku akan orang-orang yang berbadan tegap setegap pistol ditangannya juga rapuh serapuh jiwa kepedulian mereka akan sesama.

"kemuniiiiing, ayooo ning mesjid!", teriakan emak membuyarkan mimpi liarku akan indahnya pasukan berjas putih lengkap stetoskop di leher.

dengan berat hati, kuturunkan kaki ini menginjak bumi. mungkin getaran yang kutimbulkan akibat hentakan itu menggoyang sebuah keluarga semut di bawah lantai ini.

"inggih maaak", sahutku segera untuk meredam amarah emak yang mungkin naik perlahan dari kaki hingga kepala.

kubuka perlahan pintu kamarku, dan lagi bau sangit dari dapur kecil berkompor kayu menyelinap masuk ke hidungku. aku terbiasa dengan hal itu, hingga kini aku berusia 16 tahun.

segera kubasuh wajah ini dengan air wudu yang menyejukkan kalbu. dan kuambil mukena kumal yang baru saja aku cuci kemarin sore.

selesai menjalankan kewajibanku padaNya, aku mengantar emak berbelanja ke pasar untuk memenuhi persediaan jualan pecel emak hari ini. aku memang memutuskan untuk tidak bersekolah lagi. melihat kondisi emak yang semakin renta, aku tak tega meninggalkannya di rumah sendiri. dan kondisi keuangan kami yang tidak lagi memungkinkan. keputusan yang aku ambil ini memang membuatnya menangis berhari-hari hingga jatuh sakit. tapi perlahan aku bisa membuatnya mengerti.

walaupun aku tak lagi duduk di bangku coklat, mendengarkan celotehan teman-teman saat guruku menerangkan, dan mengerjakan tugas di malam hari, aku tetap belajar. emak mengajariku bertahan dan berpegang teguh pada apa yang kuyakini benar. lingkungan yang mengajariku tersenyum. dan alam yang mengajariku untuk tetap bersahaja.

"nduk, tulung gawakke blanjane mak yo", sahut emak sembari menarik tanganku untuk segera mengambil alih belanjaan emak.
"inggih mak", senyumku sebagai tanda meng-iyakan.

setiap kami pulang dari pasar, aku selalu sedikit merengek layaknya aku 10 tahun lalu, untuk berjalan menyusuru jalur yang lebih jauh daripada saat kami berangkat. aku selalu berhenti di sebuah arena wisata yang menyediakan sebuah penginapan juga untuk para turis asing yang mengunjungi desa kami. aku selalu menanti beberapa menit untuk bertemu dengan turis asing. dan satu tujuanku, aku mau berbicara dengan mereka. aku mau belajar. aku tekankan sekali lagi, aku mau belajar. memang beginilah caraku belajar.

"mak, sediluk ya, aku meh ketemu karo bule. meh sinau bahasa inggris", pintaku pada emak.
emak tak pernah mangatakan tidak. beliau selalu meng-iyakan untuk hal yang satu ini.

dan hari ini memang keberuntunganku, aku bertemu dengan sebuah keluarga dari Swedia. perlahan aku sapa mereka. dan sambutan yang mereka berikan padaku tak kalah hangatnya dengan sinar mentari yang perlahan membakar kulit kami pagi ini. aku memulai pertanyaan klasik, "what's your name? where are you come from?what do you think about our village? dan bla bla bla lainnya". kami jatuh pada percakapan yang hangat sehangat senyum bunga matahari yang tumbuh di seberang sungai kecil. perpisahan yang indah mengakhiri perjumpaan kami pagi ini. kami pun pamit.

selang berjalan beberapa kilometer, aku membalikkan badanku dan kembali melihat pada tempat kami berdiri tadi. kuteriakkan dengan lantang, "I WILL BE THERE SOON !"

rumput yang masih basah terkena embun pagi serasa menganggukkan kepalanya sebagai tanda meng-amini doaku, dan kembali kutatap mata emak dalam-dalam. aku menemukan sebuah kata amin dari matanya. kami pun berjalan pulang.

*kisah kemuning belum berahir*

-a fiction by : chaki-