Jumat, 22 Februari 2013

ibu, aku boleh bermain? #anakperempuanremaja

htahun telah berganti. dandananku kini bukan lagi celana jeans yang robek tepat di lutut, bukan lagi jaket jeans yang aku raih dari gantungan almari, dan bukan tali sepatu sneakers yang aku ikatkan kuat. kini, aku mengenakan rok tribal, kemeja ceruti, dan flat-shoes. aku tidak lagi mengenakan seragam putih-biru. namun, aku sudah menanggalkannya menjadi putih-abuabu.

perlahan, aku menatapi diriku di depan cermin,

'gadis 12 tahun yang kini sudah tepat 16 tahun. usia yang dibilang orang remaja. usia yang aku harap aku mampu mengerti arti cinta, kecewa, hingga rindu yang menggebu, kepada kamu 19 tahun, iya. kamu 19 tahun saat aku 12 tahun lalu. kita masih bersama hingga kini kau berusia 23 tahun. dan kini kamu sudah menyandang gelar sarjana. aku turut bahagia atasmu.'

***

hari ini, hari Minggu.siang kamu menjanjikan untuk bertemu. bukan, bukan bertemu Ibu atau Bapak. kamu ingin bertemu aku. dimana? di taman baca perumahan sebelah.

hari ini, aku harus berbohong lagi untuk kesekian kalinya kepada Ibu. perihal Bapak? aku terkadang mengabaikannya. jelas, dia tidak dirumah. semoga saja aku tidak memiliki "Ibu Baru" disana, disana, maupun disana.

karena flat-shoes, aku tidak perlu lagi membungkukkan badan untuk menalikan tali sepatu.

'ibu, aku pamit.'
'pergi dengan siapa kamu nak? pulang jam berapa? Jangan terlalu larut, angin malam tidak bagus untuk kesehatan. Diluar sana banyak bajingan-bajingan yang siap mengintai kamu.'
'aku pergi dengan temanku bu. teman sekolah. sebelum jam 9 malam ini aku berjanji, aku sudah sampai rumah. tenang saja, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dari guruku. aku harap bajingan-bajingan itu akan lari saat mengetahui aku tidak sendirian, tapi bersama malaikat-malaikatku'

tanpa banyak kata, aku meraih tangan ibu. mencium keningnya, juga kedua pipinya. kali ini, otot-otot wajah ibu mengendur tambah banyak. bukan satu atau dua garis. tapi bergaris-garis. aku ingin menghentikan waktu. hingga terus bisa mencium pipi ibu dengan otot-otot wajah yang masih kencang. tapi, waktu tak berpihak pada khayalanku. aku tetap dan akan terus mencintainya. dia, ibuku.

***

siang yang tidak begitu terik. ibukota tidak terlalu berisik. aku melenggangkan kakiku, perlahan, pasti. seberapa pasti? aku tidak bisa memberi prosentase. yang jelas, aku menapaki jalanku dengan pasti. aku harap begitu pula dengan jalan hidup yang kutempuh.

***

aku melihat sepasang kaki dengan sandal jepit berwarna merah-hitam. sedang diayun-ayunkan oleh sang empunya. aku yakin, itu kamu. kamu, yang dulu 19 tahun saat aku 12 tahun, dan kini 23 tahun saat aku 16 tahun. dan kamu yang kini masih menjadi kekasihku.

'ah sarjana macam apa seperti itu. kaos oblong, celana jeans, rambut acak-acakan, keriting, sandal jepit. tapi mengapa gayamu menjatuhkan aku? menginginkan tubuhku untuk hangat dipelukmu. aku rasa, badanmu adalah badan terhangat ketiga setelah bapak dan ibu'

***

hari Minggu, siang telah berganti sore, sore melepaskan ikatannya, malampun bertahta. kalau saja waktu itu orang, aku akan menyumpahi dia dengan kata-kata serapah yang tak enak didengar. ala ibu-ibu kompleks yang menyumpahi anaknya saat mulai berkenalan dengan seorang pelacur. tapi sayang, waktu itu bukan orang. dia adalah waktu, berjalan tanpa mengerti perasaan. menggilas kenangan dan kebersamaan yang tercipta sesaat.

***

(setengah sembilan)
'dek, aku sudah boleh mengantarmu pulang? lalu bertemu ibumu, dan mengenalkanku sebagai pacarmu?'
'jangan, mas'
'aku pikir ibumu sudah mengerti. kamu sudah bukan anak-anak lagi.'
'ibu masih menganggapku sebagai anak-anak usia 12 tahun. bukan remaja usia 16 tahun. ibu masih mencurigai semua lelaki sebagai bajingan.'
'karena bapak?'
'bukan, bukan karena bapak. beliau tidak bajingan, aku harap seperti itu.'
'lalu?'
'sudahlah mas, cium saja keningku, lalu kedua pipiku, aku anggap itu sebagai dirimu yang ke rumah malam ini. berkenalan dengan ibuku. memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'aku harap, tahun depan ....'
'sebelum kamu berusia 24 tahun, kamu bisa datang kerumahku, bertemu ibuku, dan memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'bukan, bukan itu yang akan aku katakan.'
'lalu?'
'aku harap, tahun depan, saat aku berusia 24 tahun, kamu tidak lagi memberiku kado ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. aku, akan menikah tahun depan.'
'dengan siapa? pacarmu selain aku? siapa? aku tidak pernah tahu.'
'bukan, aku tidak punya pacar selain kamu. aku menikah dengan anak perempuan dari kawan lama papaku'
'berbahagialah kamu. kini, cium aku, disini, dikeningku, juga kedua pipiku.'
'kamu tidak marah?'
'sudah lakukan saja !'

***

mataku sudah terlanjur panas menahan tangis. hatiku sudah patah berkeping, menjadi ratusan, ribuan. ah entah berapa keping hatiku hancur.

aku berjalan pulang, sendirian. biar bajingan-bajingan itu mengintaiku. malaikat-malaikat sedang sibuk menghiburku. mungkin mereka lupa untuk menjagaku.

rok tribal, kemeja ceruti, flat shoes, persetan dengan semua ini! aku ingin menggantinya menjadi celana jeans yang robek tepat di lutut, jaket jeans, juga sepatu sneakers. persis 12 tahun lalu, dan kamu 19 tahun.

***

'ibu aku pulang. jangan tanyakan aku mengapa. aku hanya ingin tidur cepat hari ini. aku sudah lelah.'
'nak?'
'selamat malam ibu.'

kukecup kening dan kucium kedua pipinya.

'beruntungnya kau bu, bapak masih setia disana. aku harap dia bukan bajingan. terus menjagamu sampai kau tidak bernyawa,' batinku, dengan senyum memaksa dari bibirku.

'selamat tidur nak. bajingan itu telah lari, malaikatmu menjagamu dengan baik.'

***

kembali aku ke ruang 5x6 m2. ruang yang sama saat aku berusia 12 tahun. hanya saja, kali ini kalimat jimat yang aku lontarkan pada Tuhan selesai berdoa tidak sama.

'aku sudah sampai pada penghujung lelahku, begitupun denganmu. kamu memilih dia dengan alasan yang harus aku terima. aku tidak tahu apakah harus benar-benar terima atau harus .... ah, entah, aku lelah. berbahagialah kamu sarjana berkaos oblong, bersandal jepit merah-hitam, dan berusia 23 tahun, yang tahun depan akan menikah dengan wanita yang lebih ayu dari aku.'

seharusnya aku menolak ajakanmu hari Minggu ini untuk bertemu.

chakiii

Rabu, 20 Februari 2013

ibu, aku boleh bermain? #anakperempuan

Sore mulai bertukar tempat dengan siang. Waktu yang sebenarnya aku tunggu juga waktu yg sebenarnya aku hindari. Pasalnya, hari Minggu tinggal beberapa jam saja. Kembali pada hari sekolah, hari kerja, sibuk, amarah, debu, teriakan. Menyesaki dada ibukota yg sejatinya telah sesak oleh gedung-gedung nan angkuh, juga gas karbonmonoksida yg tebal memenuhi rongga otak anak-anak jalanan sehingga hilang asa mereka, perlahan.

Sore ini aku sudah siap dengan dandanan anak gadis usia 12 tahun era kini. Dikuncir ala ekor kuda, mengenakan jeans robek tepat dilutut, jaket jeans, dan tak lupa T-shirt yg sudah mulai membuatku sedikit sesak untuk bernafas.

'akan ada apa di Minggu ini?', batinku menebak-nebak sesuatu yang akan terjadi 5 menit, setengah jam, bahkan beberapa jam setelah aku menginjakkan kakiku keluar dari rumah ini, tentu dg mengantongi izin Ibu.

Kutalikan tali sepatu sneakersku. Sigap, semangatt, percaya diri.

'Ibu, aku pamit.'
'Dg siapa kamu pergi nak? Pulang jam berapa? Jangan jauh-jauh, usiamu masih 12 tahun. Ibu tidak tega melepasmu bermain di luar sana sendirian.'
'Untuk jawaban pertama, aku bermain dengan temanku, teman sekolah. Untuk jawaban kedua, aku pulang sebelum adzan maghrib tiba. Tenang bu, aku hanya bermain di taman baca di perumahan sebelah. Itu tidak jauh bukan?'
'kamu janji nak?'
'aku janji bu,'
Segera aku kecup keningnya, juga kedua pipi yg telah mengendur otot-otot wajahnya.

***

aku tepati janjiku pada Ibu. tapi aku harus meminta maaf padanya mungkin. karena aku telah berbohong padanya tentang dengan siapa aku pergi. dia, bukan temanku. dia, pacarku.

aku menyembunyikannya dari Ibuku. bukan aku tak mau mengenalkannya, tapi Ibu itu termasuk sosok yang kolot, alot. aku memaklumi, karena beliau dahulu tumbuh di lingkungan yang agamis, modis, elegan, tapi kisah cintanya yang kata orang sedikit tragis. untuk anak perempuan seusiaku, belum pantas mengetahui cerita masa lalu Ibu. tapi, telinga tak bisa tertutup mendadak begitu saja saat ada kabar angin yang terlalu ribut mengurusi hidup orang. lama-kelamaan aku sudah terbiasa.

aku mengintip jam sailormoon-ku yang cantik sebelum aku mengucap salam pada pacarku, untuk segera berpamit pulang.

'kapan aku bisa bermain kerumahmu, dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu?'
'suatu saat, bukan sekarang. usiaku masih terlalu belia untuk mengenal cinta, pikirnya.'
'semoga sebelum tahun depan, sebelum aku berusia 19 tahun, aku bisa bermain kerumahmu dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu.'
'aku harus pamit, 5 menit lagi adzan maghrib. aku tidak mau ibuku menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan nada tak karuan.'
'pulanglah dek, hati-hati dijalan. semoga Sang Pemilik Penyeru Alam senantiasa melindungimu.'

***

sepulangku kerumah, aku dapati Ibu telah rapi dengan mukena putihnya sepaket dengan sajadah lusuh peninggalan eyang putri. diikuti bapak yang sehabis pulang bermain golf dengan rekan kerjanya seharian ini. aku dan ibuku lebih memilih tinggal dirumah dihari keluarga ketimbang mengikuti gelak tawa pelaut-pelaut besar rekan bapak. aku bosan, bahkan sangat bosan, saat harus melihat hamparan hijau yang luas, dihiasi dengan tawa pura-pura peduli pelaut perut buncit yang genit. entah, bosan atau benci. yang jelas aku tidak suka mereka.

'aku sedang datang bulan, aku tidak ikut ke masjid dengan kalian'
***

'nak, ayo makan malam dulu. baru belajar, setelah itu tidurlah.'
'aku sedang tidak lapar bu, nanti saja aku akan memakan apel buah tangan bapak tadi sore'
'bapak kangen ingin berkumpul dengan putri bapak yang cantik ini, boleh?'
'maaf pak, aku benar-benar sedang tidak nafsu makan.'

tak tega melihat binar rasa rindu dari mata bapak, aku segera memeluk tubuhnya. klinyit badannya, legam kulitnya, hitam dan berbanding terbalik dengan helai rambutnya yang hitamnya mulai memudar. lama, aku memeluknya, terasa bertahun-tahun aku tak bertemu dengan sosok bapak. padahal baru 15 jam saja aku meninggalkannya. oh bukan, bukan, bukan hanya 15 jam kita tidak bertemu. 15 bulan kita tidak bertemu. aku ingat, tepat 15 bulan yang lalu, di tanggal yang sama bapak berpamitan padaku pergi ke benua orang-orang berkulit putih. pekerjaan bapak memang mengharuskan aku berpisah berbulan-bulan. seharusnya aku marah, mengapa bapak tidak langsung pulang kerumah hari ini, dan mengapa beliau tidak mengabari kami dahulu. ah, terlalu bodoh kalau aku menyapanya dengan berondongan amarah bak senjata perang yang siap membombardir kapal perompak.

aku menangkap kecemburuan pada tubuh ibu yang merajuk untuk kupeluk juga. segera tak kulewatkan tubuh superhero-ku satu itu. aku menghangatkan tubuh keduanya. aku sadar, badanku terlalu kecil untuk menghangatkan rasa dingin mereka. setidaknya tubuh mungilku ini kelak menjadi tongkat mereka, saat senja tiba.

***
aku berlalu ke sebuah ruangan berukuran 5x6 m2. ruangan ini terlalu luas untuk tubuh mungil yang selalu merasa lelah akan sebuah perbincangan kuat dalam hati. tentang apa? tak lain tentang cintaku dengan pacarku. tentang perbedaan usia yang begitu jauh. tentang bagaimana aku menjelaskan pada ibu. bagaimana dengan bapak? ah, aku yakin bapak akan menyerahkan segala keputusan padaku.

aku masih kelas 1 sekolah menengah pertama. usia yang sangat muda untuk mengenalnya, mengenal rasa sayang, juga mengenal rasa kecewa. seharusnya aku belajar buku-buku sains, buku-buku aritmatika, buku-buku bahasa. bukan buku-buku dongeng putri dengan pangeran nan rupawan. buku-buku ini serasa menarikku ke dalamnya. menjerumuskanku pada dunia yang jauh melampaui batas usiaku. dunia cinta.

aku tak mempersoalkan akademikku. aku cukup bangga dengan segalaku. selama 3 besar aku masih raih, aku tak meributkan hal itu. yang jelas aku masih saja memimpikan kehidupan seorang putri dengan pangerannya seperti didalam cerita buku dongeng yang selalu aku baca di taman baca perumahan sebelah. dengan, pacarku.

***
ah, aku lelah sekali. aku harus menyiapkan segala peralatan sekolahku untuk besok Senin. hari kerja, hari sibuk, amarah, debu teriakan. khas ibukota. dibumbui suara klakson, mesin yang menderu-deru untuk minta didahulukan karena anaknya harus sampai sekolah tepat waktu, juga asap tebal dari knalpot yang tak lain gas beracun.

sebelum aku tidur, aku selalu mengucap kalimat jimat setelah aku selesai berdoa,
'di usiaku 4 tahun, 8 tahun, 12 tahun, 30 tahun kedepan apa kabar kamu 19 tahun kini?
masihkah aku akan meminta izin ibu dengan kalimat "ibu, aku boleh bermain? dengan temanku"'

selamat malam hari Minggu, aku menunggu Minggu selanjutnya. tapi aku tidak mau usiamu berganti secepat hari Minggu ini berjalan pada hari Minggu selanjutnya.

chakiii

Selasa, 19 Februari 2013

ranting pinus kemarin sore

soreku menggelayuti sang empunya pagi. memaksa bertahta di hari ini. aku juga bingung mengapa sore cepat sekali merajai. menggulingkan kekuasaan pagi, siang. aah, itu sudah ada yang mengatur.

dan lagi, soreku menutupi kegagahan pinus yang tegak berdiri melawan angin di balik sesuatu yang kerucut dan tertutup rimbun daun yang lain, orang menyebutnya gunung.

aku selalu protes pada sore yang sok menggantikan tahta pagi dan selalu menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.

dan lagi, itu sudah ada yang mengatur. proteskupun bak angin gunung yang hanya bersuara saat ada badai gunung.

'klek!"
ranting pinus yang menancap setia pada tubuh pinus tiba-tiba patah. menandakan betapa rapuhnya dia. kecil, menggigil, sok kuat, sok tegar menghantam angin gunung yang mendadak menjadi musuh. rusuh, tak karuan.

'hih! sore yang keparat!'
lagi, protesku pada sore yang menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.

dan aku menanyakan pada diriku sendiri,
'apa yang bisa aku lakukan?
mengapa hanya memandang?
mengapa hanya berprotes?
oh Tuhaaan'

aku hanya perempuan. perempuan yang hadir dari benih laki-laki yang ditanamkan pada rahim perempuan. yang ditiupkan nyawa setelah beberapa waktu kemudian. yang dibenahi rancangan dengan sebongkah daging dari Tuhan. yang disempurnakan dengan paras yang pas sesuai kehendakNya.

aku hanya perempuan. yang selalu mencari kehangatan dalam sebuah pelukan. yang (kadang) hadir dalam perbincangan perempuan-perempuan tadi siang di kedai tempat biasa perempuan-perempuan itu bertegur sapa, dan berujung bergosip.

aku hanya perempuan, yang tak lain tak bukan adalah ranting pinus kemarin sore

chakiii

Sabtu, 16 Februari 2013

jadi bacalah, dan tulislah !

sejatinya menulis itu
mengutarakan sesuatu melalui rangkaian kata,
kelincahan memahat kata diatas kertas

dan apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca
refleksi dari apa yang kita baca kita tuangkan dalam sebuah alunan kata demi kata yang tersusun rapi !

Minggu, 03 Februari 2013

sayang, izinkan aku menari

*sruput kopi*

Oktober, 2012
Namaku Gadis. tapi aku lebih dikenal nonong. aku tidak bisa menilai diriku sendiri. yang jelas aku itu seorang pemimpi, pemikir, juga penyakit. aku selalu memimpikan pelangi ditiap pagiku. aku selalu memikirkan hal-hal tabu juga absurd untuk dijadikan nyata dan tidak lagi tabu. realistis. aku bisa menjadi penyakit saat aku terlalu memimpikan yang terlalu indah, dan berfikir keras tentang bagaimana cara mewujudkan semua hal tabu menjadi nyata, sehingga tak ayal orang sekitarku merasakan ketidaknyamanan dari apa yang aku lakukan.

hari ini, aku melangkahkan kakiku dengan anggun. menapaki jengkal demi jengkal keindahan yang Dia ciptakan untukku. aku ingin menyambut pagiku dengan senyuman terhangat sehangat rindu ini pada sang tuan.

 "selamat pagi, tuan..", adalah satu kalimat yang selalu aku tulis di handphone-ku dan aku selalu mengirimkannya pada nomor yang aku bahkan tidak tahu siapa tuannya. namun, selalu berbalas manis semanis kopi wasgithel yang dibuat Lek Tumini untuk suaminya pagi ini. ya, beliau yang mengasuhku hingga sekarang. beliau adalah adik ibuku. aku menganggap mereka Mbokku dan Pakku. setelah Bapak-Ibuku bercerai, mereka tidak pernah menyapa pagiku lagi. aku menganggap mereka, tewas.

"selamat malam, nona..", adalah satu kalimat yang selalu tuan diujung sana kirim untukku. begitu pula sebaliknya. akupun membalasnya dengan hangat, sehangat pelukan yang ingin aku berikan padanya malam ini, untuk menemani tidurnya. kami selalu saling menyapa saat pagi membuka mata, dan malam saat mata kami terpejam. aku menikmatinya, aku harap sang tuan diujung sana juga menikmatinya.

November, 2012
"hai nona, selamat pagi. langsung saja aku utarakan maksudku menghubungimu sepagi ini. aku ingin bertemu denganmu, secepatnya. adakah kau bersedia ?", itu SMS pertama yang aku terima pagi ini dari sang tuan di ujung sana. dengan mata setengah terbuka, nyawa separuh melayang, sudah diajak melayang lebih tinggi lagi nyawaku yang tinggal separuh. melalang-buana ke angkasa raya, menari di atas awan ditemani peri-peri kecil nan anggun.

"hai tuan, selamat pagi. aku juga ingin bertemu denganmu, segera.", dengan sigap aku membalas SMS nya tak lupa emote " :) " aku sunggingkan untuknya diakhir kalimat, baru aku mengirimnya.

"selamat malam .", dariku padamu dan darimu padaku.

Desember, 2012
"selamat pagi nona. tunggu aku di ujung jalan, aku akan datang tepat waktu. aku ingin segera berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan saya harap akan menjadi sebuah cerita tentang kita. maaf aku lancang :)", dan lagi, perasaanku tidak jauh berbeda dengan bulan lalu. melayang, aku terbang. aku menari di atas awan.

"selamat pagi tuan. aku akan menunggumu di ujung jalan sesuai janjimu kemarin malam. aku juga ingin berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan aku suka kelancanganmu. tidak perlu meminta maaf. aku juga berharap akan ada cerita tentang kita :*", aku terlalu bahagia hingga tak sadar aku mengecupnya dari jauh. dari pesan singkatku.

Desember, 2012 pukul 15.00 WIB
pertama kali aku menatap mata sang tuan di ujung sana. aku merasakan ada yang tidak sama. berbeda, hangat, tapi ada sedikit rasa getir. aku tak menghiraukan rasa yang terakhir itu. percakapan demi percakapan mengalir dengan hangat. renyah. manis. bahkan lebih manis dari kopi wasgithel buatan Lek Tumini pagi ini. dia menceritakan semua tentangnya. begitu juga aku. hingga aku tak sanggup menghadapi jika sore ini harus berganti malam. aku benci, karena aku akan berpisah darinya. walaupun tiap ketakutan itu muncul, dia selalu menenangkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa, aku tetap benci saat malam merenggut soreku.

Desember, 2012 pukul 16.00 WIB
"aku ingin kamu menari diingatanku setiap pagi, dan menari di hatiku setiap malam.", satu kalimat terlontar dari bibir tipisnya. dan benar, entah kemana jiwaku saat itu. melayang, dan aku tak tahu sampai langit keberapa. kelima, keenam, bahkan ketujuh !

"akupun ingin selalu menari diingatanmu juga hatimu, tiap pagi maupun malam.", jawaban yang aku anggap setimpal dengan kalimatnya.

Januari, 2013
"sayang, izinkan aku tetap menari-nari di otakmu, juga hatimu. izinkanlah, aku mohon.", pintaku lewat pesan singkat.

"aku mengizinkanmu, tapi biarkan sejenak aku meregangkan otakku darimu. aku kepayahan melihat tarianmu yang aku... aaahh, lupakan ! aku tetap mengizinkanmu, tenang tidak akan terjadi apa-apa. selamat malam.", balasan yang aku benci. entah aku harus bahagia atau sedih atau marah. yang jelas aku akan berusaha memperbaiki tarianku, selama aku mampu. sebisaku, agar aku bisa tetap menari di otak juga hatinya, sepanjang hari.

Sabtu, 02 Februari 2013

kopi

kopi, senantiasa mengembalikan mood-ku di setiap pagi
sangat setia

apakah kamu seperti kopi ?
setia membuka kerongkongan yang haus akan kesetiaan dan imajinasi

ah, kamu kan pembenci kopi
mana mungkin kamu mau sekedar bersandar untuk meluluh-lantakkan kerongkongan kering ini

apakah kamu tidak penasaran dengan kopi ?
kalau iya, aku bisa menerangkan sejenak

kemari, duduklah disampingku, bersandarlah sebentar saja
dengarkan ceritaku tentang kopi, ini versiku

kopi itu terlalu pahit kalau kamu menenggaknya terlalu jauh dan tanpa perasaan
semacam cinta yang terlalu kuat untuk dipertahankan, sendirian
seperti air mata dari sang bunda saat melihatmu bertindak aneh
dan semacam kekecewaan saat mimpimu tak dapat kamu kendalikan, diluar batas

kopi itu terlalu ngeres kalau kamu menenggaknya terlalu kasar
semacam cinta yang tak berujung pada sebuah kebahagiaan
seperti kemarahan dari sang ayah saat melihatmu pulang terlalu larut dengan pacarmu
dan semacam kekhawatiran akan sebuah ketidakpastian

kopi, itu seperti hidup
one side is too dark, and one side is too bright

kopi itu manis, kalau kamu merasakan dengan lidah terindah yang disertai perasaan
semacam cinta yang senantiasa menyelimuti sepasang insan ditiap pagi
seperti senyuman bangga dari sang bunda saat melihatmu menyematkan baju toga dibadanmu
dan semacam kekuatan untuk menaklukkan liarnya dunia

kopi itu legit, kalau kamu merasakan dengan kehangatan, seperti sweater  yang menghangatkanmu malam tadi
semacam cinta yang diucapkan sang pria pada wanitanya saat menjelang tidur
seperti kepuasan dari sang ayah saat melihatmu bersanding dengan seorang pria pilihanmu
dan semacam kesetiaan akan sebuah impian

ini versiku dalam menikmati kopi
use your feeling, that's it !

sudaah, ini kopi sesuai imajinasiku
apakah kau mau berlayar lagi ?
silakan, berlayarlah
kopi ini senantiasa menemanimu,
suatu hari nanti, kau akan merindukan kopi versiku, dan pulang ...

chakiii

ink

tinta ?
hitam ?
mengotori kertas ?
iyakah ?

lalu ...
apakah sang kertas tersakiti ?
ternodai ?
menjadi buruk ?

TIDAK !

sang kertas menggertak dengan lantang !

" tinta itu sahabat karibku,
teman paling setia,
tinta menari-nari di atas tubuhku,
lewat nada-nadanya,
huruf-hurufnya,
kata-kata yang dirangkai indah bagai setangkai mawar,
jangan salahkan tinta terlalu jauh saat tubuhku terlalu kotor untuk kau simpan,
aku lebih baik begini,
kotor dengan segala pengalaman,
itu yang mengajariku akan hidup, sebagai kertas
bukan usang di lemari busuk bawah kasurmu itu
membusuk, hancur perlahan oleh gigitan rayap
terurai oleh mikroba-mikroba asing, dan akhirnya mati, kau buang
kalau suatu hari nanti tinta telah bosan dengan lembaran ini,
aku siap membuka lembaran baruku,
entah dengan tinta yang sama, atau dengan tinta yang berbeda "

chakiii

selamat pagi, kamu!

malam merajai hari ini
segera, dengan sigap
sebenarnya aku tak terlalu menyukai malam
aku takut saat malam merajai hatimu, pagi tak kunjung tiba

tapi, aku hanya manusia
aku tak berhak mendikte Tuhanku
biarlah Dia yang mengatur
siapa yang akan merajai di tiap harinya
apakah malam atau pagi

benar, Tuhan mendengar doaku
mau tahu aku meminta apa padaNya semalam?

"Tuhan, jika aku masih Kau izinkan untuk bertemu pagi aku ingin menyapa pagiku
dengan hangat pelukku
aku ingin mengucapkan pagi padanya
entah saat dia masih menutup mata
ataupun telah membuka mata
aku mohon Tuhan"

malam bertahta hanya beberapa jam saja
aku menganggap itu jawaban "iya" dari Sang Maha Segalanya
saat kubuka mata, aku bergumam, "terimakasih Tuhan"

aku terlalu egois jika aku tidak segera mengucapkan selamat pagi padanya
karena pagi ini begitu indah
dan jelas aku melupakan janjiku padaNya

hai, selamat pagi, kamu !
iya, kamu yang masih nyenyak dipelukannya
dan kamu yang masih terhanyut dalam mimpimu
aku disini, senantiasa menunggumu
melakukan yang terbaik semampuku
membangunkan cita dan cintamu
semoga kamu cepat terbangun, dan menyambut sapaku