sudah ribuan kali orang membahas apa itu cinta. jangan sebut kamus besar bahasa indonesia kalau mau mengartikan sebuah cinta. karena terlalu banyak macam arti cinta itu. mari, kita duduk sebentar di pojok kedai kopi ini. menikmati sedikit hangatnya cerita cinta akhir tahun.
akhir tahun ini terlalu dingin untuk dinikmati sendirian saja. aku duduk di kedai kopi dengan hanya bertemankan secangkir kopi pahit lengkap dengan dark sugar nya. pun, meja didepanku. tunggu sebentar. di depanku hanya ada secangkir kopi, tak bertuan. tak biasanya aku penasaran seperti ini.
lagi. perempuan. selalu dihadapkan akan sebuah tradisi. mereka selalu bilang, tidak sopan bila seorang perempuan mengajak berkenalan terlebih dahulu. entah seperti ada hasrat membumi mendengar petuah itu. kembali, hanya menetap di hangatnya kursi kayu, yang sebenarnya mendingin karena suasana desember ini.
senyumku mengembang, saat sang tuan dari cangkir kopi di meja depanku kembali pulang. ke mejanya, bukan mejaku. jelas, kami tak pernah saling tahu sebelumnya. mungkin, tidak akan saling tahu juga setelahnya.
aku rasa tepat memilih posisi meja di pojok kedai ini. bertemu sepasang bola mata yang cerdas. tapi terlalu cerdas untuk aku ajak menari diiringi lagu jazz easy listening favoritku. di luar hujan. mata, hati, pikiran bergembira menyambut pasukan air berdatangan membasahi keringnya bumi. bukan hanya bunga di taman yang mengembang, senyumku juga mengembang. aku melemparkan tatapan ini keluar, menikmati tarian para prajurit air yang diutus Sang Tuan untuk membasahi bumi.
senyumanku bertambah mengembang saat tiba-tiba ada sebuah tangan mengajakku bersalaman. oh, ternyata pasukan air dari langit mengamini setiap kata yang aku ucapkan dalam hati. "semoga, sang tuan mengajakku berkenalan. atau sekedar berjabat tangan. dan mungkin akan berjabat tangan dengan ayahku untuk mengucapkan lafaz dalam prosesi ijab qabul nanti". sang tuan mengajakku berjabat tangan. sejenak usus diperutku bermetamorfosis menjadi sebuah kupu-kupu. ratu kupu-kupu dari kerajaan terindah yang didalamnya tinggal para permaisuri seperti yang ada di surga.
sayang, pertemuan itu hanya sepersekian detik. dia hanya mengucapkan terimakasih dan hanya meninggalkan sebuah jejak senyuman. ususku yang bermetamorfosis menjadi sebuah kupu-kupu kembali pada keadaan semula. aku hanya bisa mengamati sebuah punggung tegap itu menuruni tangga dari kedai ini. bayangnya mengikuti dari belakang. perlahan, sang empunya bayangan menghilang.
kembali aku berfokus pada secangkir kopi di hadapanku yang mulai mendingin. aku bahagia bisa berjabat tangan dengannya. terimakasih pasukan air yang jatuh ke bumi, telah turut mengamini tiap kata dalam hatiku. semoga kata-kata terakhir agar dia berjabat tangan dengan ayahku dalam sebuah prosesi sakral, ijab qabul, teraminkan juga. kalaupun itu tidak menjadi sebuah kenyataan, izinkan sisa sayap kupu-kupu tadi tetap ada dalam tiap sel penyusun ususku.
Selasa, 31 Desember 2013
Senin, 18 November 2013
the last episode
selamat malam.
pukul 21.00.
adalah waktu yang terlalu pagi untuk terlelap dan melayang kealam yang jauh lebih indah, sesaat.
pukul 00.00 bahkan 01.00
adalah waktu yang tepat untuk terlelap, bagi kami, para pencari gelar.
atau pukul berapapun itu, untuk memejamkan mata sejenak, barang 5 menit
mungkin benar kata orang, sekuat apapun kamu berusaha, kalau Sang Rabbi berkehendak menetap, ya menetap sajalah. begitu pula aku. mungkin aku terlalu berambisi yang tak berisi, mengubah nasib dengan usaha yang tak sebanding dengan hasil yang diinginkan. tenggelam sajalah.
tahun pertama,
pemberontakan ingin segera mengakhiri studiku, dan beralih ke studi yg lain, surat ijin tak turun.
tahun kedua,
pemberontakan. namun hanya sebesar buah nangka. dan surat ijinpun masih belum turun. entah, fase ini aku mulai jatuh cinta.
tahun ketiga,
sudah lelah. mulai menyadari inchi demi inchi yang terjadi. memahami. kembali mengisi hari dengan senyuman. dan yang jelas, bertambah sedikit demi sedikit kecintaanku.
the last espisode.
akhirnya berakhir. episode terkahir akan segera terjadi. final paper. lembur. dosen. jenuh. bosan. marah. bingung. step by step. terselesaikan dengan apik. kupu-kupu siap terbang.
pukul 21.00.
adalah waktu yang terlalu pagi untuk terlelap dan melayang kealam yang jauh lebih indah, sesaat.
pukul 00.00 bahkan 01.00
adalah waktu yang tepat untuk terlelap, bagi kami, para pencari gelar.
atau pukul berapapun itu, untuk memejamkan mata sejenak, barang 5 menit
mungkin benar kata orang, sekuat apapun kamu berusaha, kalau Sang Rabbi berkehendak menetap, ya menetap sajalah. begitu pula aku. mungkin aku terlalu berambisi yang tak berisi, mengubah nasib dengan usaha yang tak sebanding dengan hasil yang diinginkan. tenggelam sajalah.
tahun pertama,
pemberontakan ingin segera mengakhiri studiku, dan beralih ke studi yg lain, surat ijin tak turun.
tahun kedua,
pemberontakan. namun hanya sebesar buah nangka. dan surat ijinpun masih belum turun. entah, fase ini aku mulai jatuh cinta.
tahun ketiga,
sudah lelah. mulai menyadari inchi demi inchi yang terjadi. memahami. kembali mengisi hari dengan senyuman. dan yang jelas, bertambah sedikit demi sedikit kecintaanku.
the last espisode.
akhirnya berakhir. episode terkahir akan segera terjadi. final paper. lembur. dosen. jenuh. bosan. marah. bingung. step by step. terselesaikan dengan apik. kupu-kupu siap terbang.
Jumat, 16 Agustus 2013
2012 period turn into 2013 period
sertijab. serah terima jabatan dari periode 2012 ke periode 2013. adalah suatu moment dimana purna sudah tugas periode 2012 dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengurus senat mahasiswa prodi S1 farmasi. dan dimulailah kepengurusan baru. jelas dengan ide-ide yang mengalir deras dan segar. pemilihan pengurus dilakukan oleh tim kpum dan ketua terpilih, Hananun. dan atas rekomendasi divisi internal, utamanya bagian kaderisasi.
Hananun. sang ketua terpilih di kepengurusan 2013-2014 sedang membacakan sumpah pengurus yang disaksikan oleh Puket III Bidang Kemahasiswaan, Bapak Agus Supridjono. khidmat. diikuti pengurus sema S1 yang lainnya. dengan memegang dada masing-masing dan memegang pundak rekan sebelahnya. minimalis. aku menamainya, kebersamaan. memang dalam realisasinya bakal banyak selisih paham antara satu orang dengan yang lainnya. tapi, itu bumbu unik dalam organisasi. kamu tidak akan belajar apa-apa tanpa adanya selisih paham. setidaknya begitu.
Hananun. sang ketua terpilih di kepengurusan 2013-2014 sedang membacakan sumpah pengurus yang disaksikan oleh Puket III Bidang Kemahasiswaan, Bapak Agus Supridjono. khidmat. diikuti pengurus sema S1 yang lainnya. dengan memegang dada masing-masing dan memegang pundak rekan sebelahnya. minimalis. aku menamainya, kebersamaan. memang dalam realisasinya bakal banyak selisih paham antara satu orang dengan yang lainnya. tapi, itu bumbu unik dalam organisasi. kamu tidak akan belajar apa-apa tanpa adanya selisih paham. setidaknya begitu.
2012. merekalah para pengurus lama. bersama-sama memajukan senat mahasiswa S1 farmasi. "sudah saatnya kami purna, dan melihat kesuksesan kepenguruan kalian. dengan sesuatu yang lebih baru tentunya, dari kalian, pengurus 2013-2014. maaf kalau kepengurusan kami masih banyak lubang disana-sini. harapan kami, tambal lubang itu. kerjakeras kami, hanya untuk kalian dan senat mahasiswa ini. bangun kerjasama dengan sesama pengurus juga dengan pengurus senat mahasiswa D3 farmasi ataupun D3 anafarma. jangan putus silaturahmi dengan kami. mohon doakan yang terbaik untuk studi kami, para pengurus lama, yang harus segera meninggalkan kampus kita tercinta."
beginilah aksi para senior-junior. tidak ada perbedaan. kita sama. hanya berbeda dimensi waktu kepengurusan. tertawa, pun berbagi. jaga komunikasi. suatu saat di saat dimensi waktu menunjukkan kita pada titik kesuksesan kita masing-masing, saya harap masih bisa untuk saling berbagi. (re:gambar kanan&bawah)
acara ini tidak akan berhasil se-khidmat ini kalau tidak ada tangan-tangan pekerja sekaligus pemikir, para panitia sertijab, juga kpum. tim yang solid, meski harus berkejaran dengan waktu. terima kasih.
buka bersama. adalah moment terakhir di acara sertijab kali ini. duduk bersama dengan masing-masing ketua prodi, bercakap ringan ala pembuka puasa, tertawa renyah juga malu-malu karena ingin meminum segelas tambahan kolak pisang yang manis. dan gengsi saat ingin meminta potongan buah semangka yang letaknya berseberangan sangat jauh.
"inilah akhir cerita kami yang menjadi awal cerita kalian. sebuah organisasi bukan ajang untuk mencari sensasi dengan aksi-aksi tak berisi. bukan kesempurnaan yang dituntut dalam sebuah organisasi, melainkan tenggung jawab. selisih paham itu hal biasa. saat selisih paham itu datang, berarti ada perhatian dari rekan kerja yang lain tentang kinerja kita. saat diri ingin memperlihatkan keunggulan pribadi, ingatlah kalian ada dalam sebuah kata "kita" bukan "aku" atau "kamu". seniormu tidak menuntut apa-apa, seniormu pula tidak menginginkan imbal balik. kami, seniormu, akan membantu kalian, walaupun tidak seberapa. setidaknya, kalian masih menjadi sedikit tanggungjawab kami, senior pengurus 2012-2013 sebelum kami resmi meningglakan kalian 1 tahun kemudian, inshaAllah. selamat bekerja, berkarya, dan berjaya."
Selasa, 16 Juli 2013
i'm a pharmacist, and i'm proud
what do you think about a pharmacist ?
dulu, saya bahkan tidak tahu menahu tentang farmasis. yang saya tahu, hanya pelayanan orang-orang di apotek. dan dengan sadisnya saya menyebut mereka sebagai tukang obat. ya, begitu. menawarkan dan memberikan obat, sudah semacam itu. tidak ada nilai plus dimata saya tentang farmasis.
semakin kesini, saya semakin sadar apa itu farmasis. di Indonesia, memang profesi ini masih kurang familiar di telinga masyarakat, dibandingkan dengan profesi dokter dan perawat, sebagai tenaga medis. namun, adanya kesinergisan antara tenaga-tenaga kesehatan di Indonesia, akan membawa pengaruh luar biasa di dunia kesehatan Indonesia. diharapkan tidak ada lagi kesalahan dalam diagnosa, pemberian obat, bahkan perawatan.
sejatinya, seorang farmasis itu tidak hanya mempelajari tentang obat semata. namun, banyak kerumitan-kerumitan tersendiri yang dipelajari oleh seorang farmasis. mulai dari formulasi teknologi sediaan obat, baik berbahan dasar sintetis atau berbahan dasar alam, perjalanan obat dalam tubuh, respon tubuh terhadap obat yang dikonsumsi, sistem imun manusia, hingga memperkirakan masa simpan obat agar aman dikonsumsi pasien dan tidak menimbulkan efek toksik atau keracunan pada pasien.
dewasa ini profesi farmasis tidak hanya memberikan pelayanan pada pasien di apotek-apotek saja. namun, sudah banyak farmasis yang mulai terjun di dunia industri farmasi. farmasis-farmasis Indonesia, tentunya, sudah banyak yang terjun di dunia industri famasi nasional maupun internasional.
pelayanan farmasis langsung pada pasien, sering disebut dengan farmasis yang bergerak di bidang farmasi klinik. mereka berkomunikasi langsung dengan pasien mengenai obat yang diresepkan dari dokter berdasarkan gejalanya. selain itu, farmasis juga melakukan pemberian informasi mengenai obat yang diberikan pada pasien. mulai efek samping yang akan timbul jika obat tersebut dikonsumsi berlebih dan dalam jangka panjang, cara minum obat agar didapat efek terapi yang tepat dan cepat, interaksi obat satu dengan yang lainnya, hingga cara penyimpanan obat yang tepat agar stabilitas obat tidak rusak. farmasis juga hendaknya memberikan edukasi mengenai obat yang dikonsumsi, sehingga pasien tidak akan salah dalam mengkonsumsi obat.
farmasis bertanggungjawab atas obat-obat yang diresepkan dokter pada pasien. oleh karena dengan adanya komunikasi, informasi, dan edukasi, diharapkan tidak ada lagi penyalahgunaan obat (drug abuse) maupun obat yang salah dalam penggunaannya untuk memberikan efek tertentu pada pasien (drug missuse). contohnya saja, obat-obat golongan narkotik. sejatinya, obat-obat golongan narkotik ini digunakan untuk mengobati pasien yang memiliki gangguan pada sistem syaraf. namun, kurangnya komunikasi, informasi, dan edukasi tentang obat golongan narkotik pada masyarakat, mengakibatkan banyak pihak-pihak tertentu yang menggunakan obat golongan ini untuk memberikan efek-efek tertentu tanpa memperhatikan efek samping dan dosis pakai. inilah, yang menjadi salah satu tanggungjawab farmasis.
mungkin ini yang bisa saya sampaikan mengenai apa itu farmasis, dan sedikit tanggungjawab sebagai seorang farmasis. semoga tulisan saya ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang profesi yang mulai dilirik anak-anak muda demi kemajuan dunia kesehatan Indonesia. saya, memang masih mengemban kewajiban sebagai salah seorang calon farmasis Indonesia. kedepannya saya harap farmasis, dokter, perawat, dan tenaga kerja kesehatan lainnya dapat bersinergi membentuk atmosfer yang lebih baik bagi dunia kesehatan Indonesia.
jayalah farmasis !
Septy Aliya Nur Chakima
#ps : sebagai calon farmasis, yang hobi menulis, saya masih butuh saran dan kritik dari para ahli, kalau ada salah mengenai tulisan saya, harap direvisi. terimakasih. Viva La Pharmacie !
Selasa, 30 April 2013
untuk angin yang terlalu rumit
ceritaku untuk kau dengarkan diantara deburan ombak
atau untuk berlalu diantara angin yang menggebu
sampaikan pada angin yang terlalu mengganggu
aku tidak menyukai kehadirannya, namun aku merindukan senyumannya
angin yang terlalu rumit
atau aku yang merumitkan diri?
#chakiii
atau untuk berlalu diantara angin yang menggebu
sampaikan pada angin yang terlalu mengganggu
aku tidak menyukai kehadirannya, namun aku merindukan senyumannya
angin yang terlalu rumit
atau aku yang merumitkan diri?
#chakiii
Senin, 29 April 2013
tiga, tentang keluh, peluh, dan subuh
KELUH. aku lelah. menapaki terjal demi terjal bukit. hingga aku terantuk batu, dan tersungkur di hadapMu.
PELUH. keringat mengucur deras, saat aku mengetahui aku telah membunuh bayanganku sendiri. dan aku bersimpuh dengan segala darah yang meluruh. dihadapanMu.
SUBUH. alam menyeruku untuk beranjak. bersimpuh kembali dihadapMu, membawa segala keluh dan peluh. semoga waktu tidak membunuh pertemuanku denganMu.
PELUH. keringat mengucur deras, saat aku mengetahui aku telah membunuh bayanganku sendiri. dan aku bersimpuh dengan segala darah yang meluruh. dihadapanMu.
SUBUH. alam menyeruku untuk beranjak. bersimpuh kembali dihadapMu, membawa segala keluh dan peluh. semoga waktu tidak membunuh pertemuanku denganMu.
Senin, 08 April 2013
kereta kata
aku menunggumu di stasiun ini seperti kemarin saat kau berpamit,
sepuluh tahun lalu
disini, aku berjalan menapaki kisah sendu yang tak kunjung lalu
menyusuri setiap inchi kenangan akan tawamu
tepat sepuluh tahun lalu, aku bercumbu denganmu dibawah plafon ruang tunggu
setelah hujan, dan langit masih ragu tersenyum
hari ini, aku masih bercumbu
tapi bukan denganmu, melainkan bayangmu
apakah kamu merasakan kehangatan tubuhku ?
tidak, kamu hanya seorang bayang semu, yang selalu merayu.
hari ini, aku masih menantimu
ditemani seorang gadis manis yang mirip denganmu
aku mengajarinya untuk menyebutmu, "Ayah."
dan aku mengajarinya untuk terus mendoakanmu
agar kereta yang kau janjikan untuk membawamu pulang cepat sampai
kalaupun hanya sekedar namamu yang dibawa kereta itu,
semoga kau tenang disana
dengan kereta kencanamu
chakiii
sepuluh tahun lalu
disini, aku berjalan menapaki kisah sendu yang tak kunjung lalu
menyusuri setiap inchi kenangan akan tawamu
tepat sepuluh tahun lalu, aku bercumbu denganmu dibawah plafon ruang tunggu
setelah hujan, dan langit masih ragu tersenyum
hari ini, aku masih bercumbu
tapi bukan denganmu, melainkan bayangmu
apakah kamu merasakan kehangatan tubuhku ?
tidak, kamu hanya seorang bayang semu, yang selalu merayu.
hari ini, aku masih menantimu
ditemani seorang gadis manis yang mirip denganmu
aku mengajarinya untuk menyebutmu, "Ayah."
dan aku mengajarinya untuk terus mendoakanmu
agar kereta yang kau janjikan untuk membawamu pulang cepat sampai
kalaupun hanya sekedar namamu yang dibawa kereta itu,
semoga kau tenang disana
dengan kereta kencanamu
chakiii
Jumat, 22 Februari 2013
ibu, aku boleh bermain? #anakperempuanremaja
htahun telah berganti. dandananku kini bukan lagi celana jeans yang robek tepat di lutut, bukan lagi jaket jeans yang aku raih dari gantungan almari, dan bukan tali sepatu sneakers yang aku ikatkan kuat. kini, aku mengenakan rok tribal, kemeja ceruti, dan flat-shoes. aku tidak lagi mengenakan seragam putih-biru. namun, aku sudah menanggalkannya menjadi putih-abuabu.
perlahan, aku menatapi diriku di depan cermin,
'gadis 12 tahun yang kini sudah tepat 16 tahun. usia yang dibilang orang remaja. usia yang aku harap aku mampu mengerti arti cinta, kecewa, hingga rindu yang menggebu, kepada kamu 19 tahun, iya. kamu 19 tahun saat aku 12 tahun lalu. kita masih bersama hingga kini kau berusia 23 tahun. dan kini kamu sudah menyandang gelar sarjana. aku turut bahagia atasmu.'
***
hari ini, hari Minggu.siang kamu menjanjikan untuk bertemu. bukan, bukan bertemu Ibu atau Bapak. kamu ingin bertemu aku. dimana? di taman baca perumahan sebelah.
hari ini, aku harus berbohong lagi untuk kesekian kalinya kepada Ibu. perihal Bapak? aku terkadang mengabaikannya. jelas, dia tidak dirumah. semoga saja aku tidak memiliki "Ibu Baru" disana, disana, maupun disana.
karena flat-shoes, aku tidak perlu lagi membungkukkan badan untuk menalikan tali sepatu.
'ibu, aku pamit.'
'pergi dengan siapa kamu nak? pulang jam berapa? Jangan terlalu larut, angin malam tidak bagus untuk kesehatan. Diluar sana banyak bajingan-bajingan yang siap mengintai kamu.'
'aku pergi dengan temanku bu. teman sekolah. sebelum jam 9 malam ini aku berjanji, aku sudah sampai rumah. tenang saja, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dari guruku. aku harap bajingan-bajingan itu akan lari saat mengetahui aku tidak sendirian, tapi bersama malaikat-malaikatku'
tanpa banyak kata, aku meraih tangan ibu. mencium keningnya, juga kedua pipinya. kali ini, otot-otot wajah ibu mengendur tambah banyak. bukan satu atau dua garis. tapi bergaris-garis. aku ingin menghentikan waktu. hingga terus bisa mencium pipi ibu dengan otot-otot wajah yang masih kencang. tapi, waktu tak berpihak pada khayalanku. aku tetap dan akan terus mencintainya. dia, ibuku.
***
siang yang tidak begitu terik. ibukota tidak terlalu berisik. aku melenggangkan kakiku, perlahan, pasti. seberapa pasti? aku tidak bisa memberi prosentase. yang jelas, aku menapaki jalanku dengan pasti. aku harap begitu pula dengan jalan hidup yang kutempuh.
***
aku melihat sepasang kaki dengan sandal jepit berwarna merah-hitam. sedang diayun-ayunkan oleh sang empunya. aku yakin, itu kamu. kamu, yang dulu 19 tahun saat aku 12 tahun, dan kini 23 tahun saat aku 16 tahun. dan kamu yang kini masih menjadi kekasihku.
'ah sarjana macam apa seperti itu. kaos oblong, celana jeans, rambut acak-acakan, keriting, sandal jepit. tapi mengapa gayamu menjatuhkan aku? menginginkan tubuhku untuk hangat dipelukmu. aku rasa, badanmu adalah badan terhangat ketiga setelah bapak dan ibu'
***
hari Minggu, siang telah berganti sore, sore melepaskan ikatannya, malampun bertahta. kalau saja waktu itu orang, aku akan menyumpahi dia dengan kata-kata serapah yang tak enak didengar. ala ibu-ibu kompleks yang menyumpahi anaknya saat mulai berkenalan dengan seorang pelacur. tapi sayang, waktu itu bukan orang. dia adalah waktu, berjalan tanpa mengerti perasaan. menggilas kenangan dan kebersamaan yang tercipta sesaat.
***
(setengah sembilan)
'dek, aku sudah boleh mengantarmu pulang? lalu bertemu ibumu, dan mengenalkanku sebagai pacarmu?'
'jangan, mas'
'aku pikir ibumu sudah mengerti. kamu sudah bukan anak-anak lagi.'
'ibu masih menganggapku sebagai anak-anak usia 12 tahun. bukan remaja usia 16 tahun. ibu masih mencurigai semua lelaki sebagai bajingan.'
'karena bapak?'
'bukan, bukan karena bapak. beliau tidak bajingan, aku harap seperti itu.'
'lalu?'
'sudahlah mas, cium saja keningku, lalu kedua pipiku, aku anggap itu sebagai dirimu yang ke rumah malam ini. berkenalan dengan ibuku. memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'aku harap, tahun depan ....'
'sebelum kamu berusia 24 tahun, kamu bisa datang kerumahku, bertemu ibuku, dan memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'bukan, bukan itu yang akan aku katakan.'
'lalu?'
'aku harap, tahun depan, saat aku berusia 24 tahun, kamu tidak lagi memberiku kado ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. aku, akan menikah tahun depan.'
'dengan siapa? pacarmu selain aku? siapa? aku tidak pernah tahu.'
'bukan, aku tidak punya pacar selain kamu. aku menikah dengan anak perempuan dari kawan lama papaku'
'berbahagialah kamu. kini, cium aku, disini, dikeningku, juga kedua pipiku.'
'kamu tidak marah?'
'sudah lakukan saja !'
***
mataku sudah terlanjur panas menahan tangis. hatiku sudah patah berkeping, menjadi ratusan, ribuan. ah entah berapa keping hatiku hancur.
aku berjalan pulang, sendirian. biar bajingan-bajingan itu mengintaiku. malaikat-malaikat sedang sibuk menghiburku. mungkin mereka lupa untuk menjagaku.
rok tribal, kemeja ceruti, flat shoes, persetan dengan semua ini! aku ingin menggantinya menjadi celana jeans yang robek tepat di lutut, jaket jeans, juga sepatu sneakers. persis 12 tahun lalu, dan kamu 19 tahun.
***
'ibu aku pulang. jangan tanyakan aku mengapa. aku hanya ingin tidur cepat hari ini. aku sudah lelah.'
'nak?'
'selamat malam ibu.'
kukecup kening dan kucium kedua pipinya.
'beruntungnya kau bu, bapak masih setia disana. aku harap dia bukan bajingan. terus menjagamu sampai kau tidak bernyawa,' batinku, dengan senyum memaksa dari bibirku.
'selamat tidur nak. bajingan itu telah lari, malaikatmu menjagamu dengan baik.'
***
kembali aku ke ruang 5x6 m2. ruang yang sama saat aku berusia 12 tahun. hanya saja, kali ini kalimat jimat yang aku lontarkan pada Tuhan selesai berdoa tidak sama.
'aku sudah sampai pada penghujung lelahku, begitupun denganmu. kamu memilih dia dengan alasan yang harus aku terima. aku tidak tahu apakah harus benar-benar terima atau harus .... ah, entah, aku lelah. berbahagialah kamu sarjana berkaos oblong, bersandal jepit merah-hitam, dan berusia 23 tahun, yang tahun depan akan menikah dengan wanita yang lebih ayu dari aku.'
seharusnya aku menolak ajakanmu hari Minggu ini untuk bertemu.
chakiii
perlahan, aku menatapi diriku di depan cermin,
'gadis 12 tahun yang kini sudah tepat 16 tahun. usia yang dibilang orang remaja. usia yang aku harap aku mampu mengerti arti cinta, kecewa, hingga rindu yang menggebu, kepada kamu 19 tahun, iya. kamu 19 tahun saat aku 12 tahun lalu. kita masih bersama hingga kini kau berusia 23 tahun. dan kini kamu sudah menyandang gelar sarjana. aku turut bahagia atasmu.'
***
hari ini, hari Minggu.siang kamu menjanjikan untuk bertemu. bukan, bukan bertemu Ibu atau Bapak. kamu ingin bertemu aku. dimana? di taman baca perumahan sebelah.
hari ini, aku harus berbohong lagi untuk kesekian kalinya kepada Ibu. perihal Bapak? aku terkadang mengabaikannya. jelas, dia tidak dirumah. semoga saja aku tidak memiliki "Ibu Baru" disana, disana, maupun disana.
karena flat-shoes, aku tidak perlu lagi membungkukkan badan untuk menalikan tali sepatu.
'ibu, aku pamit.'
'pergi dengan siapa kamu nak? pulang jam berapa? Jangan terlalu larut, angin malam tidak bagus untuk kesehatan. Diluar sana banyak bajingan-bajingan yang siap mengintai kamu.'
'aku pergi dengan temanku bu. teman sekolah. sebelum jam 9 malam ini aku berjanji, aku sudah sampai rumah. tenang saja, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dari guruku. aku harap bajingan-bajingan itu akan lari saat mengetahui aku tidak sendirian, tapi bersama malaikat-malaikatku'
tanpa banyak kata, aku meraih tangan ibu. mencium keningnya, juga kedua pipinya. kali ini, otot-otot wajah ibu mengendur tambah banyak. bukan satu atau dua garis. tapi bergaris-garis. aku ingin menghentikan waktu. hingga terus bisa mencium pipi ibu dengan otot-otot wajah yang masih kencang. tapi, waktu tak berpihak pada khayalanku. aku tetap dan akan terus mencintainya. dia, ibuku.
***
siang yang tidak begitu terik. ibukota tidak terlalu berisik. aku melenggangkan kakiku, perlahan, pasti. seberapa pasti? aku tidak bisa memberi prosentase. yang jelas, aku menapaki jalanku dengan pasti. aku harap begitu pula dengan jalan hidup yang kutempuh.
***
aku melihat sepasang kaki dengan sandal jepit berwarna merah-hitam. sedang diayun-ayunkan oleh sang empunya. aku yakin, itu kamu. kamu, yang dulu 19 tahun saat aku 12 tahun, dan kini 23 tahun saat aku 16 tahun. dan kamu yang kini masih menjadi kekasihku.
'ah sarjana macam apa seperti itu. kaos oblong, celana jeans, rambut acak-acakan, keriting, sandal jepit. tapi mengapa gayamu menjatuhkan aku? menginginkan tubuhku untuk hangat dipelukmu. aku rasa, badanmu adalah badan terhangat ketiga setelah bapak dan ibu'
***
hari Minggu, siang telah berganti sore, sore melepaskan ikatannya, malampun bertahta. kalau saja waktu itu orang, aku akan menyumpahi dia dengan kata-kata serapah yang tak enak didengar. ala ibu-ibu kompleks yang menyumpahi anaknya saat mulai berkenalan dengan seorang pelacur. tapi sayang, waktu itu bukan orang. dia adalah waktu, berjalan tanpa mengerti perasaan. menggilas kenangan dan kebersamaan yang tercipta sesaat.
***
(setengah sembilan)
'dek, aku sudah boleh mengantarmu pulang? lalu bertemu ibumu, dan mengenalkanku sebagai pacarmu?'
'jangan, mas'
'aku pikir ibumu sudah mengerti. kamu sudah bukan anak-anak lagi.'
'ibu masih menganggapku sebagai anak-anak usia 12 tahun. bukan remaja usia 16 tahun. ibu masih mencurigai semua lelaki sebagai bajingan.'
'karena bapak?'
'bukan, bukan karena bapak. beliau tidak bajingan, aku harap seperti itu.'
'lalu?'
'sudahlah mas, cium saja keningku, lalu kedua pipiku, aku anggap itu sebagai dirimu yang ke rumah malam ini. berkenalan dengan ibuku. memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'aku harap, tahun depan ....'
'sebelum kamu berusia 24 tahun, kamu bisa datang kerumahku, bertemu ibuku, dan memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'bukan, bukan itu yang akan aku katakan.'
'lalu?'
'aku harap, tahun depan, saat aku berusia 24 tahun, kamu tidak lagi memberiku kado ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. aku, akan menikah tahun depan.'
'dengan siapa? pacarmu selain aku? siapa? aku tidak pernah tahu.'
'bukan, aku tidak punya pacar selain kamu. aku menikah dengan anak perempuan dari kawan lama papaku'
'berbahagialah kamu. kini, cium aku, disini, dikeningku, juga kedua pipiku.'
'kamu tidak marah?'
'sudah lakukan saja !'
***
mataku sudah terlanjur panas menahan tangis. hatiku sudah patah berkeping, menjadi ratusan, ribuan. ah entah berapa keping hatiku hancur.
aku berjalan pulang, sendirian. biar bajingan-bajingan itu mengintaiku. malaikat-malaikat sedang sibuk menghiburku. mungkin mereka lupa untuk menjagaku.
rok tribal, kemeja ceruti, flat shoes, persetan dengan semua ini! aku ingin menggantinya menjadi celana jeans yang robek tepat di lutut, jaket jeans, juga sepatu sneakers. persis 12 tahun lalu, dan kamu 19 tahun.
***
'ibu aku pulang. jangan tanyakan aku mengapa. aku hanya ingin tidur cepat hari ini. aku sudah lelah.'
'nak?'
'selamat malam ibu.'
kukecup kening dan kucium kedua pipinya.
'beruntungnya kau bu, bapak masih setia disana. aku harap dia bukan bajingan. terus menjagamu sampai kau tidak bernyawa,' batinku, dengan senyum memaksa dari bibirku.
'selamat tidur nak. bajingan itu telah lari, malaikatmu menjagamu dengan baik.'
***
kembali aku ke ruang 5x6 m2. ruang yang sama saat aku berusia 12 tahun. hanya saja, kali ini kalimat jimat yang aku lontarkan pada Tuhan selesai berdoa tidak sama.
'aku sudah sampai pada penghujung lelahku, begitupun denganmu. kamu memilih dia dengan alasan yang harus aku terima. aku tidak tahu apakah harus benar-benar terima atau harus .... ah, entah, aku lelah. berbahagialah kamu sarjana berkaos oblong, bersandal jepit merah-hitam, dan berusia 23 tahun, yang tahun depan akan menikah dengan wanita yang lebih ayu dari aku.'
seharusnya aku menolak ajakanmu hari Minggu ini untuk bertemu.
chakiii
Rabu, 20 Februari 2013
ibu, aku boleh bermain? #anakperempuan
Sore mulai bertukar tempat dengan siang. Waktu yang sebenarnya aku
tunggu juga waktu yg sebenarnya aku hindari. Pasalnya, hari Minggu
tinggal beberapa jam saja. Kembali pada hari sekolah, hari kerja, sibuk,
amarah, debu, teriakan. Menyesaki dada ibukota yg sejatinya telah sesak
oleh gedung-gedung nan angkuh, juga gas karbonmonoksida yg tebal
memenuhi rongga otak anak-anak jalanan sehingga hilang asa mereka,
perlahan.
Sore ini aku sudah siap dengan dandanan anak gadis usia 12 tahun era kini. Dikuncir ala ekor kuda, mengenakan jeans robek tepat dilutut, jaket jeans, dan tak lupa T-shirt yg sudah mulai membuatku sedikit sesak untuk bernafas.
'akan ada apa di Minggu ini?', batinku menebak-nebak sesuatu yang akan terjadi 5 menit, setengah jam, bahkan beberapa jam setelah aku menginjakkan kakiku keluar dari rumah ini, tentu dg mengantongi izin Ibu.
Kutalikan tali sepatu sneakersku. Sigap, semangatt, percaya diri.
'Ibu, aku pamit.'
'Dg siapa kamu pergi nak? Pulang jam berapa? Jangan jauh-jauh, usiamu masih 12 tahun. Ibu tidak tega melepasmu bermain di luar sana sendirian.'
'Untuk jawaban pertama, aku bermain dengan temanku, teman sekolah. Untuk jawaban kedua, aku pulang sebelum adzan maghrib tiba. Tenang bu, aku hanya bermain di taman baca di perumahan sebelah. Itu tidak jauh bukan?'
'kamu janji nak?'
'aku janji bu,'
Segera aku kecup keningnya, juga kedua pipi yg telah mengendur otot-otot wajahnya.
***
aku tepati janjiku pada Ibu. tapi aku harus meminta maaf padanya mungkin. karena aku telah berbohong padanya tentang dengan siapa aku pergi. dia, bukan temanku. dia, pacarku.
aku menyembunyikannya dari Ibuku. bukan aku tak mau mengenalkannya, tapi Ibu itu termasuk sosok yang kolot, alot. aku memaklumi, karena beliau dahulu tumbuh di lingkungan yang agamis, modis, elegan, tapi kisah cintanya yang kata orang sedikit tragis. untuk anak perempuan seusiaku, belum pantas mengetahui cerita masa lalu Ibu. tapi, telinga tak bisa tertutup mendadak begitu saja saat ada kabar angin yang terlalu ribut mengurusi hidup orang. lama-kelamaan aku sudah terbiasa.
aku mengintip jam sailormoon-ku yang cantik sebelum aku mengucap salam pada pacarku, untuk segera berpamit pulang.
'kapan aku bisa bermain kerumahmu, dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu?'
'suatu saat, bukan sekarang. usiaku masih terlalu belia untuk mengenal cinta, pikirnya.'
'semoga sebelum tahun depan, sebelum aku berusia 19 tahun, aku bisa bermain kerumahmu dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu.'
'aku harus pamit, 5 menit lagi adzan maghrib. aku tidak mau ibuku menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan nada tak karuan.'
'pulanglah dek, hati-hati dijalan. semoga Sang Pemilik Penyeru Alam senantiasa melindungimu.'
***
sepulangku kerumah, aku dapati Ibu telah rapi dengan mukena putihnya sepaket dengan sajadah lusuh peninggalan eyang putri. diikuti bapak yang sehabis pulang bermain golf dengan rekan kerjanya seharian ini. aku dan ibuku lebih memilih tinggal dirumah dihari keluarga ketimbang mengikuti gelak tawa pelaut-pelaut besar rekan bapak. aku bosan, bahkan sangat bosan, saat harus melihat hamparan hijau yang luas, dihiasi dengan tawa pura-pura peduli pelaut perut buncit yang genit. entah, bosan atau benci. yang jelas aku tidak suka mereka.
'aku sedang datang bulan, aku tidak ikut ke masjid dengan kalian'
***
'nak, ayo makan malam dulu. baru belajar, setelah itu tidurlah.'
'aku sedang tidak lapar bu, nanti saja aku akan memakan apel buah tangan bapak tadi sore'
'bapak kangen ingin berkumpul dengan putri bapak yang cantik ini, boleh?'
'maaf pak, aku benar-benar sedang tidak nafsu makan.'
tak tega melihat binar rasa rindu dari mata bapak, aku segera memeluk tubuhnya. klinyit badannya, legam kulitnya, hitam dan berbanding terbalik dengan helai rambutnya yang hitamnya mulai memudar. lama, aku memeluknya, terasa bertahun-tahun aku tak bertemu dengan sosok bapak. padahal baru 15 jam saja aku meninggalkannya. oh bukan, bukan, bukan hanya 15 jam kita tidak bertemu. 15 bulan kita tidak bertemu. aku ingat, tepat 15 bulan yang lalu, di tanggal yang sama bapak berpamitan padaku pergi ke benua orang-orang berkulit putih. pekerjaan bapak memang mengharuskan aku berpisah berbulan-bulan. seharusnya aku marah, mengapa bapak tidak langsung pulang kerumah hari ini, dan mengapa beliau tidak mengabari kami dahulu. ah, terlalu bodoh kalau aku menyapanya dengan berondongan amarah bak senjata perang yang siap membombardir kapal perompak.
aku menangkap kecemburuan pada tubuh ibu yang merajuk untuk kupeluk juga. segera tak kulewatkan tubuh superhero-ku satu itu. aku menghangatkan tubuh keduanya. aku sadar, badanku terlalu kecil untuk menghangatkan rasa dingin mereka. setidaknya tubuh mungilku ini kelak menjadi tongkat mereka, saat senja tiba.
***
aku berlalu ke sebuah ruangan berukuran 5x6 m2. ruangan ini terlalu luas untuk tubuh mungil yang selalu merasa lelah akan sebuah perbincangan kuat dalam hati. tentang apa? tak lain tentang cintaku dengan pacarku. tentang perbedaan usia yang begitu jauh. tentang bagaimana aku menjelaskan pada ibu. bagaimana dengan bapak? ah, aku yakin bapak akan menyerahkan segala keputusan padaku.
aku masih kelas 1 sekolah menengah pertama. usia yang sangat muda untuk mengenalnya, mengenal rasa sayang, juga mengenal rasa kecewa. seharusnya aku belajar buku-buku sains, buku-buku aritmatika, buku-buku bahasa. bukan buku-buku dongeng putri dengan pangeran nan rupawan. buku-buku ini serasa menarikku ke dalamnya. menjerumuskanku pada dunia yang jauh melampaui batas usiaku. dunia cinta.
aku tak mempersoalkan akademikku. aku cukup bangga dengan segalaku. selama 3 besar aku masih raih, aku tak meributkan hal itu. yang jelas aku masih saja memimpikan kehidupan seorang putri dengan pangerannya seperti didalam cerita buku dongeng yang selalu aku baca di taman baca perumahan sebelah. dengan, pacarku.
***
ah, aku lelah sekali. aku harus menyiapkan segala peralatan sekolahku untuk besok Senin. hari kerja, hari sibuk, amarah, debu teriakan. khas ibukota. dibumbui suara klakson, mesin yang menderu-deru untuk minta didahulukan karena anaknya harus sampai sekolah tepat waktu, juga asap tebal dari knalpot yang tak lain gas beracun.
sebelum aku tidur, aku selalu mengucap kalimat jimat setelah aku selesai berdoa,
'di usiaku 4 tahun, 8 tahun, 12 tahun, 30 tahun kedepan apa kabar kamu 19 tahun kini?
masihkah aku akan meminta izin ibu dengan kalimat "ibu, aku boleh bermain? dengan temanku"'
selamat malam hari Minggu, aku menunggu Minggu selanjutnya. tapi aku tidak mau usiamu berganti secepat hari Minggu ini berjalan pada hari Minggu selanjutnya.
chakiii
Sore ini aku sudah siap dengan dandanan anak gadis usia 12 tahun era kini. Dikuncir ala ekor kuda, mengenakan jeans robek tepat dilutut, jaket jeans, dan tak lupa T-shirt yg sudah mulai membuatku sedikit sesak untuk bernafas.
'akan ada apa di Minggu ini?', batinku menebak-nebak sesuatu yang akan terjadi 5 menit, setengah jam, bahkan beberapa jam setelah aku menginjakkan kakiku keluar dari rumah ini, tentu dg mengantongi izin Ibu.
Kutalikan tali sepatu sneakersku. Sigap, semangatt, percaya diri.
'Ibu, aku pamit.'
'Dg siapa kamu pergi nak? Pulang jam berapa? Jangan jauh-jauh, usiamu masih 12 tahun. Ibu tidak tega melepasmu bermain di luar sana sendirian.'
'Untuk jawaban pertama, aku bermain dengan temanku, teman sekolah. Untuk jawaban kedua, aku pulang sebelum adzan maghrib tiba. Tenang bu, aku hanya bermain di taman baca di perumahan sebelah. Itu tidak jauh bukan?'
'kamu janji nak?'
'aku janji bu,'
Segera aku kecup keningnya, juga kedua pipi yg telah mengendur otot-otot wajahnya.
***
aku tepati janjiku pada Ibu. tapi aku harus meminta maaf padanya mungkin. karena aku telah berbohong padanya tentang dengan siapa aku pergi. dia, bukan temanku. dia, pacarku.
aku menyembunyikannya dari Ibuku. bukan aku tak mau mengenalkannya, tapi Ibu itu termasuk sosok yang kolot, alot. aku memaklumi, karena beliau dahulu tumbuh di lingkungan yang agamis, modis, elegan, tapi kisah cintanya yang kata orang sedikit tragis. untuk anak perempuan seusiaku, belum pantas mengetahui cerita masa lalu Ibu. tapi, telinga tak bisa tertutup mendadak begitu saja saat ada kabar angin yang terlalu ribut mengurusi hidup orang. lama-kelamaan aku sudah terbiasa.
aku mengintip jam sailormoon-ku yang cantik sebelum aku mengucap salam pada pacarku, untuk segera berpamit pulang.
'kapan aku bisa bermain kerumahmu, dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu?'
'suatu saat, bukan sekarang. usiaku masih terlalu belia untuk mengenal cinta, pikirnya.'
'semoga sebelum tahun depan, sebelum aku berusia 19 tahun, aku bisa bermain kerumahmu dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu.'
'aku harus pamit, 5 menit lagi adzan maghrib. aku tidak mau ibuku menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan nada tak karuan.'
'pulanglah dek, hati-hati dijalan. semoga Sang Pemilik Penyeru Alam senantiasa melindungimu.'
***
sepulangku kerumah, aku dapati Ibu telah rapi dengan mukena putihnya sepaket dengan sajadah lusuh peninggalan eyang putri. diikuti bapak yang sehabis pulang bermain golf dengan rekan kerjanya seharian ini. aku dan ibuku lebih memilih tinggal dirumah dihari keluarga ketimbang mengikuti gelak tawa pelaut-pelaut besar rekan bapak. aku bosan, bahkan sangat bosan, saat harus melihat hamparan hijau yang luas, dihiasi dengan tawa pura-pura peduli pelaut perut buncit yang genit. entah, bosan atau benci. yang jelas aku tidak suka mereka.
'aku sedang datang bulan, aku tidak ikut ke masjid dengan kalian'
***
'nak, ayo makan malam dulu. baru belajar, setelah itu tidurlah.'
'aku sedang tidak lapar bu, nanti saja aku akan memakan apel buah tangan bapak tadi sore'
'bapak kangen ingin berkumpul dengan putri bapak yang cantik ini, boleh?'
'maaf pak, aku benar-benar sedang tidak nafsu makan.'
tak tega melihat binar rasa rindu dari mata bapak, aku segera memeluk tubuhnya. klinyit badannya, legam kulitnya, hitam dan berbanding terbalik dengan helai rambutnya yang hitamnya mulai memudar. lama, aku memeluknya, terasa bertahun-tahun aku tak bertemu dengan sosok bapak. padahal baru 15 jam saja aku meninggalkannya. oh bukan, bukan, bukan hanya 15 jam kita tidak bertemu. 15 bulan kita tidak bertemu. aku ingat, tepat 15 bulan yang lalu, di tanggal yang sama bapak berpamitan padaku pergi ke benua orang-orang berkulit putih. pekerjaan bapak memang mengharuskan aku berpisah berbulan-bulan. seharusnya aku marah, mengapa bapak tidak langsung pulang kerumah hari ini, dan mengapa beliau tidak mengabari kami dahulu. ah, terlalu bodoh kalau aku menyapanya dengan berondongan amarah bak senjata perang yang siap membombardir kapal perompak.
aku menangkap kecemburuan pada tubuh ibu yang merajuk untuk kupeluk juga. segera tak kulewatkan tubuh superhero-ku satu itu. aku menghangatkan tubuh keduanya. aku sadar, badanku terlalu kecil untuk menghangatkan rasa dingin mereka. setidaknya tubuh mungilku ini kelak menjadi tongkat mereka, saat senja tiba.
***
aku berlalu ke sebuah ruangan berukuran 5x6 m2. ruangan ini terlalu luas untuk tubuh mungil yang selalu merasa lelah akan sebuah perbincangan kuat dalam hati. tentang apa? tak lain tentang cintaku dengan pacarku. tentang perbedaan usia yang begitu jauh. tentang bagaimana aku menjelaskan pada ibu. bagaimana dengan bapak? ah, aku yakin bapak akan menyerahkan segala keputusan padaku.
aku masih kelas 1 sekolah menengah pertama. usia yang sangat muda untuk mengenalnya, mengenal rasa sayang, juga mengenal rasa kecewa. seharusnya aku belajar buku-buku sains, buku-buku aritmatika, buku-buku bahasa. bukan buku-buku dongeng putri dengan pangeran nan rupawan. buku-buku ini serasa menarikku ke dalamnya. menjerumuskanku pada dunia yang jauh melampaui batas usiaku. dunia cinta.
aku tak mempersoalkan akademikku. aku cukup bangga dengan segalaku. selama 3 besar aku masih raih, aku tak meributkan hal itu. yang jelas aku masih saja memimpikan kehidupan seorang putri dengan pangerannya seperti didalam cerita buku dongeng yang selalu aku baca di taman baca perumahan sebelah. dengan, pacarku.
***
ah, aku lelah sekali. aku harus menyiapkan segala peralatan sekolahku untuk besok Senin. hari kerja, hari sibuk, amarah, debu teriakan. khas ibukota. dibumbui suara klakson, mesin yang menderu-deru untuk minta didahulukan karena anaknya harus sampai sekolah tepat waktu, juga asap tebal dari knalpot yang tak lain gas beracun.
sebelum aku tidur, aku selalu mengucap kalimat jimat setelah aku selesai berdoa,
'di usiaku 4 tahun, 8 tahun, 12 tahun, 30 tahun kedepan apa kabar kamu 19 tahun kini?
masihkah aku akan meminta izin ibu dengan kalimat "ibu, aku boleh bermain? dengan temanku"'
selamat malam hari Minggu, aku menunggu Minggu selanjutnya. tapi aku tidak mau usiamu berganti secepat hari Minggu ini berjalan pada hari Minggu selanjutnya.
chakiii
Selasa, 19 Februari 2013
ranting pinus kemarin sore
soreku menggelayuti sang empunya pagi. memaksa bertahta di hari ini. aku juga bingung mengapa sore cepat sekali merajai. menggulingkan kekuasaan pagi, siang. aah, itu sudah ada yang mengatur.
dan lagi, soreku menutupi kegagahan pinus yang tegak berdiri melawan angin di balik sesuatu yang kerucut dan tertutup rimbun daun yang lain, orang menyebutnya gunung.
aku selalu protes pada sore yang sok menggantikan tahta pagi dan selalu menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.
dan lagi, itu sudah ada yang mengatur. proteskupun bak angin gunung yang hanya bersuara saat ada badai gunung.
'klek!"
ranting pinus yang menancap setia pada tubuh pinus tiba-tiba patah. menandakan betapa rapuhnya dia. kecil, menggigil, sok kuat, sok tegar menghantam angin gunung yang mendadak menjadi musuh. rusuh, tak karuan.
'hih! sore yang keparat!'
lagi, protesku pada sore yang menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.
dan aku menanyakan pada diriku sendiri,
'apa yang bisa aku lakukan?
mengapa hanya memandang?
mengapa hanya berprotes?
oh Tuhaaan'
aku hanya perempuan. perempuan yang hadir dari benih laki-laki yang ditanamkan pada rahim perempuan. yang ditiupkan nyawa setelah beberapa waktu kemudian. yang dibenahi rancangan dengan sebongkah daging dari Tuhan. yang disempurnakan dengan paras yang pas sesuai kehendakNya.
aku hanya perempuan. yang selalu mencari kehangatan dalam sebuah pelukan. yang (kadang) hadir dalam perbincangan perempuan-perempuan tadi siang di kedai tempat biasa perempuan-perempuan itu bertegur sapa, dan berujung bergosip.
aku hanya perempuan, yang tak lain tak bukan adalah ranting pinus kemarin sore
chakiii
dan lagi, soreku menutupi kegagahan pinus yang tegak berdiri melawan angin di balik sesuatu yang kerucut dan tertutup rimbun daun yang lain, orang menyebutnya gunung.
aku selalu protes pada sore yang sok menggantikan tahta pagi dan selalu menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.
dan lagi, itu sudah ada yang mengatur. proteskupun bak angin gunung yang hanya bersuara saat ada badai gunung.
'klek!"
ranting pinus yang menancap setia pada tubuh pinus tiba-tiba patah. menandakan betapa rapuhnya dia. kecil, menggigil, sok kuat, sok tegar menghantam angin gunung yang mendadak menjadi musuh. rusuh, tak karuan.
'hih! sore yang keparat!'
lagi, protesku pada sore yang menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.
dan aku menanyakan pada diriku sendiri,
'apa yang bisa aku lakukan?
mengapa hanya memandang?
mengapa hanya berprotes?
oh Tuhaaan'
aku hanya perempuan. perempuan yang hadir dari benih laki-laki yang ditanamkan pada rahim perempuan. yang ditiupkan nyawa setelah beberapa waktu kemudian. yang dibenahi rancangan dengan sebongkah daging dari Tuhan. yang disempurnakan dengan paras yang pas sesuai kehendakNya.
aku hanya perempuan. yang selalu mencari kehangatan dalam sebuah pelukan. yang (kadang) hadir dalam perbincangan perempuan-perempuan tadi siang di kedai tempat biasa perempuan-perempuan itu bertegur sapa, dan berujung bergosip.
aku hanya perempuan, yang tak lain tak bukan adalah ranting pinus kemarin sore
chakiii
Sabtu, 16 Februari 2013
jadi bacalah, dan tulislah !
sejatinya menulis itu
mengutarakan sesuatu melalui rangkaian kata,
kelincahan memahat kata diatas kertas
dan apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca
refleksi dari apa yang kita baca kita tuangkan dalam sebuah alunan kata demi kata yang tersusun rapi !
mengutarakan sesuatu melalui rangkaian kata,
kelincahan memahat kata diatas kertas
dan apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca
refleksi dari apa yang kita baca kita tuangkan dalam sebuah alunan kata demi kata yang tersusun rapi !
Minggu, 03 Februari 2013
sayang, izinkan aku menari
*sruput kopi*
Oktober, 2012
Namaku Gadis. tapi aku lebih dikenal nonong. aku tidak bisa menilai diriku sendiri. yang jelas aku itu seorang pemimpi, pemikir, juga penyakit. aku selalu memimpikan pelangi ditiap pagiku. aku selalu memikirkan hal-hal tabu juga absurd untuk dijadikan nyata dan tidak lagi tabu. realistis. aku bisa menjadi penyakit saat aku terlalu memimpikan yang terlalu indah, dan berfikir keras tentang bagaimana cara mewujudkan semua hal tabu menjadi nyata, sehingga tak ayal orang sekitarku merasakan ketidaknyamanan dari apa yang aku lakukan.
hari ini, aku melangkahkan kakiku dengan anggun. menapaki jengkal demi jengkal keindahan yang Dia ciptakan untukku. aku ingin menyambut pagiku dengan senyuman terhangat sehangat rindu ini pada sang tuan.
"selamat pagi, tuan..", adalah satu kalimat yang selalu aku tulis di handphone-ku dan aku selalu mengirimkannya pada nomor yang aku bahkan tidak tahu siapa tuannya. namun, selalu berbalas manis semanis kopi wasgithel yang dibuat Lek Tumini untuk suaminya pagi ini. ya, beliau yang mengasuhku hingga sekarang. beliau adalah adik ibuku. aku menganggap mereka Mbokku dan Pakku. setelah Bapak-Ibuku bercerai, mereka tidak pernah menyapa pagiku lagi. aku menganggap mereka, tewas.
"selamat malam, nona..", adalah satu kalimat yang selalu tuan diujung sana kirim untukku. begitu pula sebaliknya. akupun membalasnya dengan hangat, sehangat pelukan yang ingin aku berikan padanya malam ini, untuk menemani tidurnya. kami selalu saling menyapa saat pagi membuka mata, dan malam saat mata kami terpejam. aku menikmatinya, aku harap sang tuan diujung sana juga menikmatinya.
November, 2012
"hai nona, selamat pagi. langsung saja aku utarakan maksudku menghubungimu sepagi ini. aku ingin bertemu denganmu, secepatnya. adakah kau bersedia ?", itu SMS pertama yang aku terima pagi ini dari sang tuan di ujung sana. dengan mata setengah terbuka, nyawa separuh melayang, sudah diajak melayang lebih tinggi lagi nyawaku yang tinggal separuh. melalang-buana ke angkasa raya, menari di atas awan ditemani peri-peri kecil nan anggun.
"hai tuan, selamat pagi. aku juga ingin bertemu denganmu, segera.", dengan sigap aku membalas SMS nya tak lupa emote " :) " aku sunggingkan untuknya diakhir kalimat, baru aku mengirimnya.
"selamat malam .", dariku padamu dan darimu padaku.
Desember, 2012
"selamat pagi nona. tunggu aku di ujung jalan, aku akan datang tepat waktu. aku ingin segera berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan saya harap akan menjadi sebuah cerita tentang kita. maaf aku lancang :)", dan lagi, perasaanku tidak jauh berbeda dengan bulan lalu. melayang, aku terbang. aku menari di atas awan.
"selamat pagi tuan. aku akan menunggumu di ujung jalan sesuai janjimu kemarin malam. aku juga ingin berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan aku suka kelancanganmu. tidak perlu meminta maaf. aku juga berharap akan ada cerita tentang kita :*", aku terlalu bahagia hingga tak sadar aku mengecupnya dari jauh. dari pesan singkatku.
Desember, 2012 pukul 15.00 WIB
pertama kali aku menatap mata sang tuan di ujung sana. aku merasakan ada yang tidak sama. berbeda, hangat, tapi ada sedikit rasa getir. aku tak menghiraukan rasa yang terakhir itu. percakapan demi percakapan mengalir dengan hangat. renyah. manis. bahkan lebih manis dari kopi wasgithel buatan Lek Tumini pagi ini. dia menceritakan semua tentangnya. begitu juga aku. hingga aku tak sanggup menghadapi jika sore ini harus berganti malam. aku benci, karena aku akan berpisah darinya. walaupun tiap ketakutan itu muncul, dia selalu menenangkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa, aku tetap benci saat malam merenggut soreku.
Desember, 2012 pukul 16.00 WIB
"aku ingin kamu menari diingatanku setiap pagi, dan menari di hatiku setiap malam.", satu kalimat terlontar dari bibir tipisnya. dan benar, entah kemana jiwaku saat itu. melayang, dan aku tak tahu sampai langit keberapa. kelima, keenam, bahkan ketujuh !
"akupun ingin selalu menari diingatanmu juga hatimu, tiap pagi maupun malam.", jawaban yang aku anggap setimpal dengan kalimatnya.
Januari, 2013
"sayang, izinkan aku tetap menari-nari di otakmu, juga hatimu. izinkanlah, aku mohon.", pintaku lewat pesan singkat.
"aku mengizinkanmu, tapi biarkan sejenak aku meregangkan otakku darimu. aku kepayahan melihat tarianmu yang aku... aaahh, lupakan ! aku tetap mengizinkanmu, tenang tidak akan terjadi apa-apa. selamat malam.", balasan yang aku benci. entah aku harus bahagia atau sedih atau marah. yang jelas aku akan berusaha memperbaiki tarianku, selama aku mampu. sebisaku, agar aku bisa tetap menari di otak juga hatinya, sepanjang hari.
Oktober, 2012
Namaku Gadis. tapi aku lebih dikenal nonong. aku tidak bisa menilai diriku sendiri. yang jelas aku itu seorang pemimpi, pemikir, juga penyakit. aku selalu memimpikan pelangi ditiap pagiku. aku selalu memikirkan hal-hal tabu juga absurd untuk dijadikan nyata dan tidak lagi tabu. realistis. aku bisa menjadi penyakit saat aku terlalu memimpikan yang terlalu indah, dan berfikir keras tentang bagaimana cara mewujudkan semua hal tabu menjadi nyata, sehingga tak ayal orang sekitarku merasakan ketidaknyamanan dari apa yang aku lakukan.
hari ini, aku melangkahkan kakiku dengan anggun. menapaki jengkal demi jengkal keindahan yang Dia ciptakan untukku. aku ingin menyambut pagiku dengan senyuman terhangat sehangat rindu ini pada sang tuan.
"selamat pagi, tuan..", adalah satu kalimat yang selalu aku tulis di handphone-ku dan aku selalu mengirimkannya pada nomor yang aku bahkan tidak tahu siapa tuannya. namun, selalu berbalas manis semanis kopi wasgithel yang dibuat Lek Tumini untuk suaminya pagi ini. ya, beliau yang mengasuhku hingga sekarang. beliau adalah adik ibuku. aku menganggap mereka Mbokku dan Pakku. setelah Bapak-Ibuku bercerai, mereka tidak pernah menyapa pagiku lagi. aku menganggap mereka, tewas.
"selamat malam, nona..", adalah satu kalimat yang selalu tuan diujung sana kirim untukku. begitu pula sebaliknya. akupun membalasnya dengan hangat, sehangat pelukan yang ingin aku berikan padanya malam ini, untuk menemani tidurnya. kami selalu saling menyapa saat pagi membuka mata, dan malam saat mata kami terpejam. aku menikmatinya, aku harap sang tuan diujung sana juga menikmatinya.
November, 2012
"hai nona, selamat pagi. langsung saja aku utarakan maksudku menghubungimu sepagi ini. aku ingin bertemu denganmu, secepatnya. adakah kau bersedia ?", itu SMS pertama yang aku terima pagi ini dari sang tuan di ujung sana. dengan mata setengah terbuka, nyawa separuh melayang, sudah diajak melayang lebih tinggi lagi nyawaku yang tinggal separuh. melalang-buana ke angkasa raya, menari di atas awan ditemani peri-peri kecil nan anggun.
"hai tuan, selamat pagi. aku juga ingin bertemu denganmu, segera.", dengan sigap aku membalas SMS nya tak lupa emote " :) " aku sunggingkan untuknya diakhir kalimat, baru aku mengirimnya.
"selamat malam .", dariku padamu dan darimu padaku.
Desember, 2012
"selamat pagi nona. tunggu aku di ujung jalan, aku akan datang tepat waktu. aku ingin segera berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan saya harap akan menjadi sebuah cerita tentang kita. maaf aku lancang :)", dan lagi, perasaanku tidak jauh berbeda dengan bulan lalu. melayang, aku terbang. aku menari di atas awan.
"selamat pagi tuan. aku akan menunggumu di ujung jalan sesuai janjimu kemarin malam. aku juga ingin berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan aku suka kelancanganmu. tidak perlu meminta maaf. aku juga berharap akan ada cerita tentang kita :*", aku terlalu bahagia hingga tak sadar aku mengecupnya dari jauh. dari pesan singkatku.
Desember, 2012 pukul 15.00 WIB
pertama kali aku menatap mata sang tuan di ujung sana. aku merasakan ada yang tidak sama. berbeda, hangat, tapi ada sedikit rasa getir. aku tak menghiraukan rasa yang terakhir itu. percakapan demi percakapan mengalir dengan hangat. renyah. manis. bahkan lebih manis dari kopi wasgithel buatan Lek Tumini pagi ini. dia menceritakan semua tentangnya. begitu juga aku. hingga aku tak sanggup menghadapi jika sore ini harus berganti malam. aku benci, karena aku akan berpisah darinya. walaupun tiap ketakutan itu muncul, dia selalu menenangkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa, aku tetap benci saat malam merenggut soreku.
Desember, 2012 pukul 16.00 WIB
"aku ingin kamu menari diingatanku setiap pagi, dan menari di hatiku setiap malam.", satu kalimat terlontar dari bibir tipisnya. dan benar, entah kemana jiwaku saat itu. melayang, dan aku tak tahu sampai langit keberapa. kelima, keenam, bahkan ketujuh !
"akupun ingin selalu menari diingatanmu juga hatimu, tiap pagi maupun malam.", jawaban yang aku anggap setimpal dengan kalimatnya.
Januari, 2013
"sayang, izinkan aku tetap menari-nari di otakmu, juga hatimu. izinkanlah, aku mohon.", pintaku lewat pesan singkat.
"aku mengizinkanmu, tapi biarkan sejenak aku meregangkan otakku darimu. aku kepayahan melihat tarianmu yang aku... aaahh, lupakan ! aku tetap mengizinkanmu, tenang tidak akan terjadi apa-apa. selamat malam.", balasan yang aku benci. entah aku harus bahagia atau sedih atau marah. yang jelas aku akan berusaha memperbaiki tarianku, selama aku mampu. sebisaku, agar aku bisa tetap menari di otak juga hatinya, sepanjang hari.
Sabtu, 02 Februari 2013
kopi
kopi, senantiasa mengembalikan mood-ku di setiap pagi
sangat setia
apakah kamu seperti kopi ?
setia membuka kerongkongan yang haus akan kesetiaan dan imajinasi
ah, kamu kan pembenci kopi
mana mungkin kamu mau sekedar bersandar untuk meluluh-lantakkan kerongkongan kering ini
apakah kamu tidak penasaran dengan kopi ?
kalau iya, aku bisa menerangkan sejenak
kemari, duduklah disampingku, bersandarlah sebentar saja
dengarkan ceritaku tentang kopi, ini versiku
kopi itu terlalu pahit kalau kamu menenggaknya terlalu jauh dan tanpa perasaan
semacam cinta yang terlalu kuat untuk dipertahankan, sendirian
seperti air mata dari sang bunda saat melihatmu bertindak aneh
dan semacam kekecewaan saat mimpimu tak dapat kamu kendalikan, diluar batas
kopi itu terlalu ngeres kalau kamu menenggaknya terlalu kasar
semacam cinta yang tak berujung pada sebuah kebahagiaan
seperti kemarahan dari sang ayah saat melihatmu pulang terlalu larut dengan pacarmu
dan semacam kekhawatiran akan sebuah ketidakpastian
kopi, itu seperti hidup
one side is too dark, and one side is too bright
kopi itu manis, kalau kamu merasakan dengan lidah terindah yang disertai perasaan
semacam cinta yang senantiasa menyelimuti sepasang insan ditiap pagi
seperti senyuman bangga dari sang bunda saat melihatmu menyematkan baju toga dibadanmu
dan semacam kekuatan untuk menaklukkan liarnya dunia
kopi itu legit, kalau kamu merasakan dengan kehangatan, seperti sweater yang menghangatkanmu malam tadi
semacam cinta yang diucapkan sang pria pada wanitanya saat menjelang tidur
seperti kepuasan dari sang ayah saat melihatmu bersanding dengan seorang pria pilihanmu
dan semacam kesetiaan akan sebuah impian
ini versiku dalam menikmati kopi
use your feeling, that's it !
sudaah, ini kopi sesuai imajinasiku
apakah kau mau berlayar lagi ?
silakan, berlayarlah
kopi ini senantiasa menemanimu,
suatu hari nanti, kau akan merindukan kopi versiku, dan pulang ...
chakiii
sangat setia
apakah kamu seperti kopi ?
setia membuka kerongkongan yang haus akan kesetiaan dan imajinasi
ah, kamu kan pembenci kopi
mana mungkin kamu mau sekedar bersandar untuk meluluh-lantakkan kerongkongan kering ini
apakah kamu tidak penasaran dengan kopi ?
kalau iya, aku bisa menerangkan sejenak
kemari, duduklah disampingku, bersandarlah sebentar saja
dengarkan ceritaku tentang kopi, ini versiku
kopi itu terlalu pahit kalau kamu menenggaknya terlalu jauh dan tanpa perasaan
semacam cinta yang terlalu kuat untuk dipertahankan, sendirian
seperti air mata dari sang bunda saat melihatmu bertindak aneh
dan semacam kekecewaan saat mimpimu tak dapat kamu kendalikan, diluar batas
kopi itu terlalu ngeres kalau kamu menenggaknya terlalu kasar
semacam cinta yang tak berujung pada sebuah kebahagiaan
seperti kemarahan dari sang ayah saat melihatmu pulang terlalu larut dengan pacarmu
dan semacam kekhawatiran akan sebuah ketidakpastian
kopi, itu seperti hidup
one side is too dark, and one side is too bright
kopi itu manis, kalau kamu merasakan dengan lidah terindah yang disertai perasaan
semacam cinta yang senantiasa menyelimuti sepasang insan ditiap pagi
seperti senyuman bangga dari sang bunda saat melihatmu menyematkan baju toga dibadanmu
dan semacam kekuatan untuk menaklukkan liarnya dunia
kopi itu legit, kalau kamu merasakan dengan kehangatan, seperti sweater yang menghangatkanmu malam tadi
semacam cinta yang diucapkan sang pria pada wanitanya saat menjelang tidur
seperti kepuasan dari sang ayah saat melihatmu bersanding dengan seorang pria pilihanmu
dan semacam kesetiaan akan sebuah impian
ini versiku dalam menikmati kopi
use your feeling, that's it !
sudaah, ini kopi sesuai imajinasiku
apakah kau mau berlayar lagi ?
silakan, berlayarlah
kopi ini senantiasa menemanimu,
suatu hari nanti, kau akan merindukan kopi versiku, dan pulang ...
chakiii
ink
tinta ?
hitam ?
mengotori kertas ?
iyakah ?
lalu ...
apakah sang kertas tersakiti ?
ternodai ?
menjadi buruk ?
TIDAK !
sang kertas menggertak dengan lantang !
" tinta itu sahabat karibku,
teman paling setia,
tinta menari-nari di atas tubuhku,
lewat nada-nadanya,
huruf-hurufnya,
kata-kata yang dirangkai indah bagai setangkai mawar,
jangan salahkan tinta terlalu jauh saat tubuhku terlalu kotor untuk kau simpan,
aku lebih baik begini,
kotor dengan segala pengalaman,
itu yang mengajariku akan hidup, sebagai kertas
bukan usang di lemari busuk bawah kasurmu itu
membusuk, hancur perlahan oleh gigitan rayap
terurai oleh mikroba-mikroba asing, dan akhirnya mati, kau buang
kalau suatu hari nanti tinta telah bosan dengan lembaran ini,
aku siap membuka lembaran baruku,
entah dengan tinta yang sama, atau dengan tinta yang berbeda "
chakiii
hitam ?
mengotori kertas ?
iyakah ?
lalu ...
apakah sang kertas tersakiti ?
ternodai ?
menjadi buruk ?
TIDAK !
sang kertas menggertak dengan lantang !
" tinta itu sahabat karibku,
teman paling setia,
tinta menari-nari di atas tubuhku,
lewat nada-nadanya,
huruf-hurufnya,
kata-kata yang dirangkai indah bagai setangkai mawar,
jangan salahkan tinta terlalu jauh saat tubuhku terlalu kotor untuk kau simpan,
aku lebih baik begini,
kotor dengan segala pengalaman,
itu yang mengajariku akan hidup, sebagai kertas
bukan usang di lemari busuk bawah kasurmu itu
membusuk, hancur perlahan oleh gigitan rayap
terurai oleh mikroba-mikroba asing, dan akhirnya mati, kau buang
kalau suatu hari nanti tinta telah bosan dengan lembaran ini,
aku siap membuka lembaran baruku,
entah dengan tinta yang sama, atau dengan tinta yang berbeda "
chakiii
selamat pagi, kamu!
malam merajai hari ini
segera, dengan sigap
sebenarnya aku tak terlalu menyukai malam
aku takut saat malam merajai hatimu, pagi tak kunjung tiba
tapi, aku hanya manusia
aku tak berhak mendikte Tuhanku
biarlah Dia yang mengatur
siapa yang akan merajai di tiap harinya
apakah malam atau pagi
benar, Tuhan mendengar doaku
mau tahu aku meminta apa padaNya semalam?
"Tuhan, jika aku masih Kau izinkan untuk bertemu pagi aku ingin menyapa pagiku
dengan hangat pelukku
aku ingin mengucapkan pagi padanya
entah saat dia masih menutup mata
ataupun telah membuka mata
aku mohon Tuhan"
malam bertahta hanya beberapa jam saja
aku menganggap itu jawaban "iya" dari Sang Maha Segalanya
saat kubuka mata, aku bergumam, "terimakasih Tuhan"
aku terlalu egois jika aku tidak segera mengucapkan selamat pagi padanya
karena pagi ini begitu indah
dan jelas aku melupakan janjiku padaNya
hai, selamat pagi, kamu !
iya, kamu yang masih nyenyak dipelukannya
dan kamu yang masih terhanyut dalam mimpimu
aku disini, senantiasa menunggumu
melakukan yang terbaik semampuku
membangunkan cita dan cintamu
semoga kamu cepat terbangun, dan menyambut sapaku
segera, dengan sigap
sebenarnya aku tak terlalu menyukai malam
aku takut saat malam merajai hatimu, pagi tak kunjung tiba
tapi, aku hanya manusia
aku tak berhak mendikte Tuhanku
biarlah Dia yang mengatur
siapa yang akan merajai di tiap harinya
apakah malam atau pagi
benar, Tuhan mendengar doaku
mau tahu aku meminta apa padaNya semalam?
"Tuhan, jika aku masih Kau izinkan untuk bertemu pagi aku ingin menyapa pagiku
dengan hangat pelukku
aku ingin mengucapkan pagi padanya
entah saat dia masih menutup mata
ataupun telah membuka mata
aku mohon Tuhan"
malam bertahta hanya beberapa jam saja
aku menganggap itu jawaban "iya" dari Sang Maha Segalanya
saat kubuka mata, aku bergumam, "terimakasih Tuhan"
aku terlalu egois jika aku tidak segera mengucapkan selamat pagi padanya
karena pagi ini begitu indah
dan jelas aku melupakan janjiku padaNya
hai, selamat pagi, kamu !
iya, kamu yang masih nyenyak dipelukannya
dan kamu yang masih terhanyut dalam mimpimu
aku disini, senantiasa menunggumu
melakukan yang terbaik semampuku
membangunkan cita dan cintamu
semoga kamu cepat terbangun, dan menyambut sapaku
Jumat, 25 Januari 2013
sahabat atau cinta
bagaimana menurut kalian kalau sebuah kisah cinta diawali dari sebuah kisah persahabatan..??
sebenarnya ini adalah masalah klasik.
tapi terlalu klasiknya, sehingga terlalu rumit juga untuk dipecahkan.
banyak yang bilang cinta dari sebuah persahabatan akan mudah rusak.
ada juga yang bilang cinta dari sebuah persahabatan gak akan mudah rusak bila dijaga layaknya mereka sahabatan dulu.
tapi menurut saya wajar jika cinta itu muncul dari sebuah kisah persahabatan.
karena tiap hari kita bertemu dia, bercerita dengan dia, menatap wajahnya, menatap sayu matanya, berbagi bersama, daaaan masih banyak lagi...
kita habiskan waktu bersama, tidak terikat waktu, tetap terbuka satu sama lain,..
tapi setelah benih cinta itu merubah kisah persahabatn menjadi kisah sepasang kekasih, tidak ada lagi keterbukaan, tidak ada lagi saling bercerita, tidak ada lagi waktu menatap wajahnya, tidak ada lagi waktu berbagi bersama..
mungkin itu yang membuat hubungan persahabatan yang akan berantakan...
sebenarnya ini adalah masalah klasik.
tapi terlalu klasiknya, sehingga terlalu rumit juga untuk dipecahkan.
banyak yang bilang cinta dari sebuah persahabatan akan mudah rusak.
ada juga yang bilang cinta dari sebuah persahabatan gak akan mudah rusak bila dijaga layaknya mereka sahabatan dulu.
tapi menurut saya wajar jika cinta itu muncul dari sebuah kisah persahabatan.
karena tiap hari kita bertemu dia, bercerita dengan dia, menatap wajahnya, menatap sayu matanya, berbagi bersama, daaaan masih banyak lagi...
kita habiskan waktu bersama, tidak terikat waktu, tetap terbuka satu sama lain,..
tapi setelah benih cinta itu merubah kisah persahabatn menjadi kisah sepasang kekasih, tidak ada lagi keterbukaan, tidak ada lagi saling bercerita, tidak ada lagi waktu menatap wajahnya, tidak ada lagi waktu berbagi bersama..
mungkin itu yang membuat hubungan persahabatan yang akan berantakan...
Langganan:
Komentar (Atom)