dulu, saya bahkan tidak tahu menahu tentang farmasis. yang saya tahu, hanya pelayanan orang-orang di apotek. dan dengan sadisnya saya menyebut mereka sebagai tukang obat. ya, begitu. menawarkan dan memberikan obat, sudah semacam itu. tidak ada nilai plus dimata saya tentang farmasis.
semakin kesini, saya semakin sadar apa itu farmasis. di Indonesia, memang profesi ini masih kurang familiar di telinga masyarakat, dibandingkan dengan profesi dokter dan perawat, sebagai tenaga medis. namun, adanya kesinergisan antara tenaga-tenaga kesehatan di Indonesia, akan membawa pengaruh luar biasa di dunia kesehatan Indonesia. diharapkan tidak ada lagi kesalahan dalam diagnosa, pemberian obat, bahkan perawatan.
sejatinya, seorang farmasis itu tidak hanya mempelajari tentang obat semata. namun, banyak kerumitan-kerumitan tersendiri yang dipelajari oleh seorang farmasis. mulai dari formulasi teknologi sediaan obat, baik berbahan dasar sintetis atau berbahan dasar alam, perjalanan obat dalam tubuh, respon tubuh terhadap obat yang dikonsumsi, sistem imun manusia, hingga memperkirakan masa simpan obat agar aman dikonsumsi pasien dan tidak menimbulkan efek toksik atau keracunan pada pasien.
dewasa ini profesi farmasis tidak hanya memberikan pelayanan pada pasien di apotek-apotek saja. namun, sudah banyak farmasis yang mulai terjun di dunia industri farmasi. farmasis-farmasis Indonesia, tentunya, sudah banyak yang terjun di dunia industri famasi nasional maupun internasional.
pelayanan farmasis langsung pada pasien, sering disebut dengan farmasis yang bergerak di bidang farmasi klinik. mereka berkomunikasi langsung dengan pasien mengenai obat yang diresepkan dari dokter berdasarkan gejalanya. selain itu, farmasis juga melakukan pemberian informasi mengenai obat yang diberikan pada pasien. mulai efek samping yang akan timbul jika obat tersebut dikonsumsi berlebih dan dalam jangka panjang, cara minum obat agar didapat efek terapi yang tepat dan cepat, interaksi obat satu dengan yang lainnya, hingga cara penyimpanan obat yang tepat agar stabilitas obat tidak rusak. farmasis juga hendaknya memberikan edukasi mengenai obat yang dikonsumsi, sehingga pasien tidak akan salah dalam mengkonsumsi obat.
farmasis bertanggungjawab atas obat-obat yang diresepkan dokter pada pasien. oleh karena dengan adanya komunikasi, informasi, dan edukasi, diharapkan tidak ada lagi penyalahgunaan obat (drug abuse) maupun obat yang salah dalam penggunaannya untuk memberikan efek tertentu pada pasien (drug missuse). contohnya saja, obat-obat golongan narkotik. sejatinya, obat-obat golongan narkotik ini digunakan untuk mengobati pasien yang memiliki gangguan pada sistem syaraf. namun, kurangnya komunikasi, informasi, dan edukasi tentang obat golongan narkotik pada masyarakat, mengakibatkan banyak pihak-pihak tertentu yang menggunakan obat golongan ini untuk memberikan efek-efek tertentu tanpa memperhatikan efek samping dan dosis pakai. inilah, yang menjadi salah satu tanggungjawab farmasis.
mungkin ini yang bisa saya sampaikan mengenai apa itu farmasis, dan sedikit tanggungjawab sebagai seorang farmasis. semoga tulisan saya ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang profesi yang mulai dilirik anak-anak muda demi kemajuan dunia kesehatan Indonesia. saya, memang masih mengemban kewajiban sebagai salah seorang calon farmasis Indonesia. kedepannya saya harap farmasis, dokter, perawat, dan tenaga kerja kesehatan lainnya dapat bersinergi membentuk atmosfer yang lebih baik bagi dunia kesehatan Indonesia.
jayalah farmasis !
Septy Aliya Nur Chakima
#ps : sebagai calon farmasis, yang hobi menulis, saya masih butuh saran dan kritik dari para ahli, kalau ada salah mengenai tulisan saya, harap direvisi. terimakasih. Viva La Pharmacie !