ceritaku untuk kau dengarkan diantara deburan ombak
atau untuk berlalu diantara angin yang menggebu
sampaikan pada angin yang terlalu mengganggu
aku tidak menyukai kehadirannya, namun aku merindukan senyumannya
angin yang terlalu rumit
atau aku yang merumitkan diri?
#chakiii
Selasa, 30 April 2013
Senin, 29 April 2013
tiga, tentang keluh, peluh, dan subuh
KELUH. aku lelah. menapaki terjal demi terjal bukit. hingga aku terantuk batu, dan tersungkur di hadapMu.
PELUH. keringat mengucur deras, saat aku mengetahui aku telah membunuh bayanganku sendiri. dan aku bersimpuh dengan segala darah yang meluruh. dihadapanMu.
SUBUH. alam menyeruku untuk beranjak. bersimpuh kembali dihadapMu, membawa segala keluh dan peluh. semoga waktu tidak membunuh pertemuanku denganMu.
PELUH. keringat mengucur deras, saat aku mengetahui aku telah membunuh bayanganku sendiri. dan aku bersimpuh dengan segala darah yang meluruh. dihadapanMu.
SUBUH. alam menyeruku untuk beranjak. bersimpuh kembali dihadapMu, membawa segala keluh dan peluh. semoga waktu tidak membunuh pertemuanku denganMu.
Senin, 08 April 2013
kereta kata
aku menunggumu di stasiun ini seperti kemarin saat kau berpamit,
sepuluh tahun lalu
disini, aku berjalan menapaki kisah sendu yang tak kunjung lalu
menyusuri setiap inchi kenangan akan tawamu
tepat sepuluh tahun lalu, aku bercumbu denganmu dibawah plafon ruang tunggu
setelah hujan, dan langit masih ragu tersenyum
hari ini, aku masih bercumbu
tapi bukan denganmu, melainkan bayangmu
apakah kamu merasakan kehangatan tubuhku ?
tidak, kamu hanya seorang bayang semu, yang selalu merayu.
hari ini, aku masih menantimu
ditemani seorang gadis manis yang mirip denganmu
aku mengajarinya untuk menyebutmu, "Ayah."
dan aku mengajarinya untuk terus mendoakanmu
agar kereta yang kau janjikan untuk membawamu pulang cepat sampai
kalaupun hanya sekedar namamu yang dibawa kereta itu,
semoga kau tenang disana
dengan kereta kencanamu
chakiii
sepuluh tahun lalu
disini, aku berjalan menapaki kisah sendu yang tak kunjung lalu
menyusuri setiap inchi kenangan akan tawamu
tepat sepuluh tahun lalu, aku bercumbu denganmu dibawah plafon ruang tunggu
setelah hujan, dan langit masih ragu tersenyum
hari ini, aku masih bercumbu
tapi bukan denganmu, melainkan bayangmu
apakah kamu merasakan kehangatan tubuhku ?
tidak, kamu hanya seorang bayang semu, yang selalu merayu.
hari ini, aku masih menantimu
ditemani seorang gadis manis yang mirip denganmu
aku mengajarinya untuk menyebutmu, "Ayah."
dan aku mengajarinya untuk terus mendoakanmu
agar kereta yang kau janjikan untuk membawamu pulang cepat sampai
kalaupun hanya sekedar namamu yang dibawa kereta itu,
semoga kau tenang disana
dengan kereta kencanamu
chakiii
Langganan:
Komentar (Atom)