Selasa, 31 Desember 2013

karena tak ada cinta yang tak retak

sudah ribuan kali orang membahas apa itu cinta. jangan sebut kamus besar bahasa indonesia kalau mau mengartikan sebuah cinta. karena terlalu banyak macam arti cinta itu. mari, kita duduk sebentar di pojok kedai kopi ini. menikmati sedikit hangatnya cerita cinta akhir tahun.

akhir tahun ini terlalu dingin untuk dinikmati sendirian saja. aku duduk di kedai kopi dengan hanya bertemankan secangkir kopi pahit lengkap dengan dark sugar nya. pun, meja didepanku. tunggu sebentar. di depanku hanya ada secangkir kopi, tak bertuan. tak biasanya aku penasaran seperti ini.

lagi. perempuan. selalu dihadapkan akan sebuah tradisi. mereka selalu bilang, tidak sopan bila seorang perempuan mengajak berkenalan terlebih dahulu. entah seperti ada hasrat membumi mendengar petuah itu. kembali, hanya menetap di hangatnya kursi kayu, yang sebenarnya mendingin karena suasana desember ini.

senyumku mengembang, saat sang tuan dari cangkir kopi di meja depanku kembali pulang. ke mejanya, bukan mejaku. jelas, kami tak pernah saling tahu sebelumnya. mungkin, tidak akan saling tahu juga setelahnya.

aku rasa tepat memilih posisi meja di pojok kedai ini. bertemu sepasang bola mata yang cerdas. tapi terlalu cerdas untuk aku ajak menari diiringi lagu jazz easy listening favoritku. di luar hujan. mata, hati, pikiran bergembira menyambut pasukan air berdatangan membasahi keringnya bumi. bukan hanya bunga di taman yang mengembang, senyumku juga mengembang. aku melemparkan tatapan ini keluar, menikmati tarian para prajurit air yang diutus Sang Tuan untuk membasahi bumi.

senyumanku bertambah mengembang saat tiba-tiba ada sebuah tangan mengajakku bersalaman. oh, ternyata pasukan air dari langit mengamini setiap kata yang aku ucapkan dalam hati. "semoga, sang tuan mengajakku berkenalan. atau sekedar berjabat tangan. dan mungkin akan berjabat tangan dengan ayahku untuk mengucapkan lafaz dalam prosesi ijab qabul nanti". sang tuan mengajakku berjabat tangan. sejenak usus diperutku bermetamorfosis menjadi sebuah kupu-kupu. ratu kupu-kupu dari kerajaan terindah yang didalamnya tinggal para permaisuri seperti yang ada di surga.

sayang, pertemuan itu hanya sepersekian detik. dia hanya mengucapkan terimakasih dan hanya meninggalkan sebuah jejak senyuman. ususku yang bermetamorfosis menjadi sebuah kupu-kupu kembali pada keadaan semula. aku hanya bisa mengamati sebuah punggung tegap itu menuruni tangga dari kedai ini. bayangnya mengikuti dari belakang. perlahan, sang empunya bayangan menghilang.

kembali aku berfokus pada secangkir kopi di hadapanku yang mulai mendingin. aku bahagia bisa berjabat tangan dengannya. terimakasih pasukan air yang jatuh ke bumi, telah turut mengamini tiap kata dalam hatiku. semoga kata-kata terakhir agar dia berjabat tangan dengan ayahku dalam sebuah prosesi sakral, ijab qabul, teraminkan juga. kalaupun itu tidak menjadi sebuah kenyataan, izinkan sisa sayap kupu-kupu tadi tetap ada dalam tiap sel penyusun ususku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar