selamat jalan, dan akan meninggalkan atau ditinggalkan. selamat datang, dan akan mendatangi atau didatangi. terserah skenario Tuhan saja.
masih dengan sentuhan kopi pahit malam kemarin. bukan malam minggu, tapi malam menuju malam minggu yang berakhir dengan akhir pekan yang lumayan panjang, dan cukup untuk bersantai.
lima perempuan, bercakap dengan hangat. tawa sebagai topeng, berhasil menutupi wajah kami masing-masing akan sebuah kehilangan. malam itu kami merasakan kehilangan. tapi topeng kami tebal sekali. kami masih tertawa terbahak-bahak, sejatinya hati ini macam kerupuk yang akan mengkerut lalu hancur saat terkena air.
satu per satu cerita mengalir dari mulut kami masing-masing. sudah lama tak bersua, wajar saja kami saling lempar ejek, sama seperti saat kami masih usia belia, lengkap dengan seragam putih-abu. akhir pekan ini kami memutuskan untuk menceritakan tentang siapa-siapa saja tamu yang mengetuk hati kami. didatangi ataukah mendatangi. kemudian, siap meninggalkan atau ditinggalkan.
sebut saja Nona Kece dengan segala kecerdasannya. sudah mendapat gelar sarjana, terdepan diantara kami. satu per satu kami akan menyusul. cuma berbeda bulan saja. tunggu. maaf, ceritaku melebar kemana-mana. aku kembali. Nona Kece baru saja meninggalkan tamu yang datang atau ditinggalkan oleh tamu yang datang. entah. yang jelas, biarkan Nona Kece dan sang tamu yang mengetahui cerita versi mereka. aku tidak berhak menghakimi siapa yang salah atau benar diantara mereka. jangan menanyakan alasannya. kalau aku mendengar versi si Nona, alasan si tamu sangat tidak masuk akal. tapi aku yakin, versi si tamu berbeda lagi. perempuan ini terlihat tegar. saat ditanya apakah dia menangis? tidak munafik, dia menyatakan iya. tawa lebar dia tunjukkan pada kami tiap kami bertemu. kadang ketidakhadirannya, menimbulkan sepi. itu yang aku tunggu dari dia. kembali tertawa. tapi bukan topeng. sejatinya, tertawa lepas, layaknya dulu saat kami harus berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore dengan segala aktivitas les diluar sana. yang masih sama, adalah semangatnya yang realistis dan selalu berkeinginan untuk kurus. terimakasih mengenalkanku akan cerita cinta pertama, tawa lepas dan keoptimisan. you're so beautiful ! :)
kedua, Nona Perfeksionis. sebentar lagi sarjana. sama seperti aku. Nona Perfeksionis, "aku sedang membuka lebar-lebar pintuku. ayo, silakan yang ingin mengetuknya." perkataan ringan, yang jelas ada sesuatu berat dibaliknya. aku tahu, sedang ada tamu yang datang mengetuk pintunya. yang aku heran, dia mau memilih yang seperti apa lagi? biarkan dia yang tahu. itu pilihannya. sang Nona sudah jatuh sejatuh-jatuhnya, mungkin dia ingin yang terbaik kelak. semua pun sama. yang terbaik. ada sisi tegar juga saat aku melihat matanya. bukan tidak pernah sedih, justru Nona belajar dari kesedihan selama 4 tahun atau bahkan lebih. sedikit terbutakan oleh cinta remaja saat itu mungkin. terima kasih mengajariku arti tulus, menunggu, hingga tak dianggap lagi. dan berujung bangkit lagi. you're so tough ! :*
selanjutnya, Nona Melankolis. dia juga sama, sebentar lagi sarjana. sang Nona menceritakan perihal tamu yang datang beberapa waktu lalu. kemudian membuat sebuah kesalahan, dan mungkin masih belum termaafkan saat ini. entahlah, aku berdoa untuk kalian berdua, semoga tidak termaafkan untuk selamanya, hanya sebuah skenario kecil yang mungkin bisa mendekatkan kalian. biarkan sang tamu dengan segala kehidupannya. yang berhak mengatur dirinya, hanya dirinya. tugasmu hanya mengingatkan. urusan dia dengan Tuhan biarkan menjadi urusannya. nikmatilah saja rindu saat kalian tak lagi saling berbalas pesan melalui handphone pintar. kamu mengajariku, "jodoh yang terbaik akan datang pada waktu dan tempat yang tepat. tidak terlalu terburu-buru. semua yang terburu-buru belum tentu menghasilkan yang terbaik." jangan marah-marah terus, nikmati masa-masa akhirmu sebagai mahasiswa. selesaikan tanggung jawab. terima kasih mengajariku arti mengingatkan kebaikan pada sesama walau hasilnya tak sesuai harapan. you're so rock ! :)
Nona Super Melankolis. sebentar lagi sarjana. kali ini dia berbeda. tamu datang beberapa waktu lalu. dan menetap hingga kini. meski belum mau dibilang tamu yang akan menetap. yang jelas, tawa malu saat disindir, dan rasa gelisah saat pesan singkat tak kunjung dibalas, terlihat sangat jelas dimata kami malam kemarin. aku merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. mungkin hingga ke dalam sel-sel tubuhnya. selamat dari kami. doa kami ada untuk kalian, apapun keputusannya. terimakasih, mengingatkanku akan rasa gelisah saat 15 menit tak dibalasnya pesan singkat dari kita, atau tersenyum malu dengan wajah merah. juga terimakasih mengingatkanku akan sebuah kata maaf yang tulus, untuk sebuah kesalahan di waktu lalu. (untuk terimakasih yang kedua, tak perlu kau tau apa alasannya.) what a good friend ! :)
Aku. sebentar lagi menjadi sarjana. sama seperti yang lain. belum ada tamu yang spesial. yang jelas, aku masih bersabar untuk membukakan pintu itu saat waktu dan pada tempat yang sangat tepat. tertawa tegar, sejatinya ada tangis dibaliknya. senang mengingatkan kebaikan. bersabar untuk kembali merasakan gelisah saat 15 menit tak saling berbalas pesan, dan bersabar untuk kembali merasakan malu saat ditanya, "siapa pacarmu sekarang?" :)
perempuan-perempuan yang kemarin malam duduk disekelilingku, terus berlarilah hingga 7 kaki didepan kalian sampai kalian tau apa yang akan terjadi disana. lebih baik begitu. daripada berdiam diri, dan tak tahu apa-apa.
selamat malam
chakima-23.02
Tidak ada komentar:
Posting Komentar