Minggu, 03 Februari 2013

sayang, izinkan aku menari

*sruput kopi*

Oktober, 2012
Namaku Gadis. tapi aku lebih dikenal nonong. aku tidak bisa menilai diriku sendiri. yang jelas aku itu seorang pemimpi, pemikir, juga penyakit. aku selalu memimpikan pelangi ditiap pagiku. aku selalu memikirkan hal-hal tabu juga absurd untuk dijadikan nyata dan tidak lagi tabu. realistis. aku bisa menjadi penyakit saat aku terlalu memimpikan yang terlalu indah, dan berfikir keras tentang bagaimana cara mewujudkan semua hal tabu menjadi nyata, sehingga tak ayal orang sekitarku merasakan ketidaknyamanan dari apa yang aku lakukan.

hari ini, aku melangkahkan kakiku dengan anggun. menapaki jengkal demi jengkal keindahan yang Dia ciptakan untukku. aku ingin menyambut pagiku dengan senyuman terhangat sehangat rindu ini pada sang tuan.

 "selamat pagi, tuan..", adalah satu kalimat yang selalu aku tulis di handphone-ku dan aku selalu mengirimkannya pada nomor yang aku bahkan tidak tahu siapa tuannya. namun, selalu berbalas manis semanis kopi wasgithel yang dibuat Lek Tumini untuk suaminya pagi ini. ya, beliau yang mengasuhku hingga sekarang. beliau adalah adik ibuku. aku menganggap mereka Mbokku dan Pakku. setelah Bapak-Ibuku bercerai, mereka tidak pernah menyapa pagiku lagi. aku menganggap mereka, tewas.

"selamat malam, nona..", adalah satu kalimat yang selalu tuan diujung sana kirim untukku. begitu pula sebaliknya. akupun membalasnya dengan hangat, sehangat pelukan yang ingin aku berikan padanya malam ini, untuk menemani tidurnya. kami selalu saling menyapa saat pagi membuka mata, dan malam saat mata kami terpejam. aku menikmatinya, aku harap sang tuan diujung sana juga menikmatinya.

November, 2012
"hai nona, selamat pagi. langsung saja aku utarakan maksudku menghubungimu sepagi ini. aku ingin bertemu denganmu, secepatnya. adakah kau bersedia ?", itu SMS pertama yang aku terima pagi ini dari sang tuan di ujung sana. dengan mata setengah terbuka, nyawa separuh melayang, sudah diajak melayang lebih tinggi lagi nyawaku yang tinggal separuh. melalang-buana ke angkasa raya, menari di atas awan ditemani peri-peri kecil nan anggun.

"hai tuan, selamat pagi. aku juga ingin bertemu denganmu, segera.", dengan sigap aku membalas SMS nya tak lupa emote " :) " aku sunggingkan untuknya diakhir kalimat, baru aku mengirimnya.

"selamat malam .", dariku padamu dan darimu padaku.

Desember, 2012
"selamat pagi nona. tunggu aku di ujung jalan, aku akan datang tepat waktu. aku ingin segera berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan saya harap akan menjadi sebuah cerita tentang kita. maaf aku lancang :)", dan lagi, perasaanku tidak jauh berbeda dengan bulan lalu. melayang, aku terbang. aku menari di atas awan.

"selamat pagi tuan. aku akan menunggumu di ujung jalan sesuai janjimu kemarin malam. aku juga ingin berbincang banyak denganmu, tentangmu, dan aku suka kelancanganmu. tidak perlu meminta maaf. aku juga berharap akan ada cerita tentang kita :*", aku terlalu bahagia hingga tak sadar aku mengecupnya dari jauh. dari pesan singkatku.

Desember, 2012 pukul 15.00 WIB
pertama kali aku menatap mata sang tuan di ujung sana. aku merasakan ada yang tidak sama. berbeda, hangat, tapi ada sedikit rasa getir. aku tak menghiraukan rasa yang terakhir itu. percakapan demi percakapan mengalir dengan hangat. renyah. manis. bahkan lebih manis dari kopi wasgithel buatan Lek Tumini pagi ini. dia menceritakan semua tentangnya. begitu juga aku. hingga aku tak sanggup menghadapi jika sore ini harus berganti malam. aku benci, karena aku akan berpisah darinya. walaupun tiap ketakutan itu muncul, dia selalu menenangkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa, aku tetap benci saat malam merenggut soreku.

Desember, 2012 pukul 16.00 WIB
"aku ingin kamu menari diingatanku setiap pagi, dan menari di hatiku setiap malam.", satu kalimat terlontar dari bibir tipisnya. dan benar, entah kemana jiwaku saat itu. melayang, dan aku tak tahu sampai langit keberapa. kelima, keenam, bahkan ketujuh !

"akupun ingin selalu menari diingatanmu juga hatimu, tiap pagi maupun malam.", jawaban yang aku anggap setimpal dengan kalimatnya.

Januari, 2013
"sayang, izinkan aku tetap menari-nari di otakmu, juga hatimu. izinkanlah, aku mohon.", pintaku lewat pesan singkat.

"aku mengizinkanmu, tapi biarkan sejenak aku meregangkan otakku darimu. aku kepayahan melihat tarianmu yang aku... aaahh, lupakan ! aku tetap mengizinkanmu, tenang tidak akan terjadi apa-apa. selamat malam.", balasan yang aku benci. entah aku harus bahagia atau sedih atau marah. yang jelas aku akan berusaha memperbaiki tarianku, selama aku mampu. sebisaku, agar aku bisa tetap menari di otak juga hatinya, sepanjang hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar