Rabu, 20 Februari 2013

ibu, aku boleh bermain? #anakperempuan

Sore mulai bertukar tempat dengan siang. Waktu yang sebenarnya aku tunggu juga waktu yg sebenarnya aku hindari. Pasalnya, hari Minggu tinggal beberapa jam saja. Kembali pada hari sekolah, hari kerja, sibuk, amarah, debu, teriakan. Menyesaki dada ibukota yg sejatinya telah sesak oleh gedung-gedung nan angkuh, juga gas karbonmonoksida yg tebal memenuhi rongga otak anak-anak jalanan sehingga hilang asa mereka, perlahan.

Sore ini aku sudah siap dengan dandanan anak gadis usia 12 tahun era kini. Dikuncir ala ekor kuda, mengenakan jeans robek tepat dilutut, jaket jeans, dan tak lupa T-shirt yg sudah mulai membuatku sedikit sesak untuk bernafas.

'akan ada apa di Minggu ini?', batinku menebak-nebak sesuatu yang akan terjadi 5 menit, setengah jam, bahkan beberapa jam setelah aku menginjakkan kakiku keluar dari rumah ini, tentu dg mengantongi izin Ibu.

Kutalikan tali sepatu sneakersku. Sigap, semangatt, percaya diri.

'Ibu, aku pamit.'
'Dg siapa kamu pergi nak? Pulang jam berapa? Jangan jauh-jauh, usiamu masih 12 tahun. Ibu tidak tega melepasmu bermain di luar sana sendirian.'
'Untuk jawaban pertama, aku bermain dengan temanku, teman sekolah. Untuk jawaban kedua, aku pulang sebelum adzan maghrib tiba. Tenang bu, aku hanya bermain di taman baca di perumahan sebelah. Itu tidak jauh bukan?'
'kamu janji nak?'
'aku janji bu,'
Segera aku kecup keningnya, juga kedua pipi yg telah mengendur otot-otot wajahnya.

***

aku tepati janjiku pada Ibu. tapi aku harus meminta maaf padanya mungkin. karena aku telah berbohong padanya tentang dengan siapa aku pergi. dia, bukan temanku. dia, pacarku.

aku menyembunyikannya dari Ibuku. bukan aku tak mau mengenalkannya, tapi Ibu itu termasuk sosok yang kolot, alot. aku memaklumi, karena beliau dahulu tumbuh di lingkungan yang agamis, modis, elegan, tapi kisah cintanya yang kata orang sedikit tragis. untuk anak perempuan seusiaku, belum pantas mengetahui cerita masa lalu Ibu. tapi, telinga tak bisa tertutup mendadak begitu saja saat ada kabar angin yang terlalu ribut mengurusi hidup orang. lama-kelamaan aku sudah terbiasa.

aku mengintip jam sailormoon-ku yang cantik sebelum aku mengucap salam pada pacarku, untuk segera berpamit pulang.

'kapan aku bisa bermain kerumahmu, dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu?'
'suatu saat, bukan sekarang. usiaku masih terlalu belia untuk mengenal cinta, pikirnya.'
'semoga sebelum tahun depan, sebelum aku berusia 19 tahun, aku bisa bermain kerumahmu dan mengenalkan diriku sebagai pacarmu pada ibumu.'
'aku harus pamit, 5 menit lagi adzan maghrib. aku tidak mau ibuku menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan nada tak karuan.'
'pulanglah dek, hati-hati dijalan. semoga Sang Pemilik Penyeru Alam senantiasa melindungimu.'

***

sepulangku kerumah, aku dapati Ibu telah rapi dengan mukena putihnya sepaket dengan sajadah lusuh peninggalan eyang putri. diikuti bapak yang sehabis pulang bermain golf dengan rekan kerjanya seharian ini. aku dan ibuku lebih memilih tinggal dirumah dihari keluarga ketimbang mengikuti gelak tawa pelaut-pelaut besar rekan bapak. aku bosan, bahkan sangat bosan, saat harus melihat hamparan hijau yang luas, dihiasi dengan tawa pura-pura peduli pelaut perut buncit yang genit. entah, bosan atau benci. yang jelas aku tidak suka mereka.

'aku sedang datang bulan, aku tidak ikut ke masjid dengan kalian'
***

'nak, ayo makan malam dulu. baru belajar, setelah itu tidurlah.'
'aku sedang tidak lapar bu, nanti saja aku akan memakan apel buah tangan bapak tadi sore'
'bapak kangen ingin berkumpul dengan putri bapak yang cantik ini, boleh?'
'maaf pak, aku benar-benar sedang tidak nafsu makan.'

tak tega melihat binar rasa rindu dari mata bapak, aku segera memeluk tubuhnya. klinyit badannya, legam kulitnya, hitam dan berbanding terbalik dengan helai rambutnya yang hitamnya mulai memudar. lama, aku memeluknya, terasa bertahun-tahun aku tak bertemu dengan sosok bapak. padahal baru 15 jam saja aku meninggalkannya. oh bukan, bukan, bukan hanya 15 jam kita tidak bertemu. 15 bulan kita tidak bertemu. aku ingat, tepat 15 bulan yang lalu, di tanggal yang sama bapak berpamitan padaku pergi ke benua orang-orang berkulit putih. pekerjaan bapak memang mengharuskan aku berpisah berbulan-bulan. seharusnya aku marah, mengapa bapak tidak langsung pulang kerumah hari ini, dan mengapa beliau tidak mengabari kami dahulu. ah, terlalu bodoh kalau aku menyapanya dengan berondongan amarah bak senjata perang yang siap membombardir kapal perompak.

aku menangkap kecemburuan pada tubuh ibu yang merajuk untuk kupeluk juga. segera tak kulewatkan tubuh superhero-ku satu itu. aku menghangatkan tubuh keduanya. aku sadar, badanku terlalu kecil untuk menghangatkan rasa dingin mereka. setidaknya tubuh mungilku ini kelak menjadi tongkat mereka, saat senja tiba.

***
aku berlalu ke sebuah ruangan berukuran 5x6 m2. ruangan ini terlalu luas untuk tubuh mungil yang selalu merasa lelah akan sebuah perbincangan kuat dalam hati. tentang apa? tak lain tentang cintaku dengan pacarku. tentang perbedaan usia yang begitu jauh. tentang bagaimana aku menjelaskan pada ibu. bagaimana dengan bapak? ah, aku yakin bapak akan menyerahkan segala keputusan padaku.

aku masih kelas 1 sekolah menengah pertama. usia yang sangat muda untuk mengenalnya, mengenal rasa sayang, juga mengenal rasa kecewa. seharusnya aku belajar buku-buku sains, buku-buku aritmatika, buku-buku bahasa. bukan buku-buku dongeng putri dengan pangeran nan rupawan. buku-buku ini serasa menarikku ke dalamnya. menjerumuskanku pada dunia yang jauh melampaui batas usiaku. dunia cinta.

aku tak mempersoalkan akademikku. aku cukup bangga dengan segalaku. selama 3 besar aku masih raih, aku tak meributkan hal itu. yang jelas aku masih saja memimpikan kehidupan seorang putri dengan pangerannya seperti didalam cerita buku dongeng yang selalu aku baca di taman baca perumahan sebelah. dengan, pacarku.

***
ah, aku lelah sekali. aku harus menyiapkan segala peralatan sekolahku untuk besok Senin. hari kerja, hari sibuk, amarah, debu teriakan. khas ibukota. dibumbui suara klakson, mesin yang menderu-deru untuk minta didahulukan karena anaknya harus sampai sekolah tepat waktu, juga asap tebal dari knalpot yang tak lain gas beracun.

sebelum aku tidur, aku selalu mengucap kalimat jimat setelah aku selesai berdoa,
'di usiaku 4 tahun, 8 tahun, 12 tahun, 30 tahun kedepan apa kabar kamu 19 tahun kini?
masihkah aku akan meminta izin ibu dengan kalimat "ibu, aku boleh bermain? dengan temanku"'

selamat malam hari Minggu, aku menunggu Minggu selanjutnya. tapi aku tidak mau usiamu berganti secepat hari Minggu ini berjalan pada hari Minggu selanjutnya.

chakiii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar