htahun telah berganti. dandananku kini bukan lagi celana jeans yang robek tepat di lutut, bukan lagi jaket jeans yang aku raih dari gantungan almari, dan bukan tali sepatu sneakers yang aku ikatkan kuat. kini, aku mengenakan rok tribal, kemeja ceruti, dan flat-shoes. aku tidak lagi mengenakan seragam putih-biru. namun, aku sudah menanggalkannya menjadi putih-abuabu.
perlahan, aku menatapi diriku di depan cermin,
'gadis 12 tahun yang kini sudah tepat 16 tahun. usia yang dibilang orang remaja. usia yang aku harap aku mampu mengerti arti cinta, kecewa, hingga rindu yang menggebu, kepada kamu 19 tahun, iya. kamu 19 tahun saat aku 12 tahun lalu. kita masih bersama hingga kini kau berusia 23 tahun. dan kini kamu sudah menyandang gelar sarjana. aku turut bahagia atasmu.'
***
hari ini, hari Minggu.siang kamu menjanjikan untuk bertemu. bukan, bukan bertemu Ibu atau Bapak. kamu ingin bertemu aku. dimana? di taman baca perumahan sebelah.
hari ini, aku harus berbohong lagi untuk kesekian kalinya kepada Ibu. perihal Bapak? aku terkadang mengabaikannya. jelas, dia tidak dirumah. semoga saja aku tidak memiliki "Ibu Baru" disana, disana, maupun disana.
karena flat-shoes, aku tidak perlu lagi membungkukkan badan untuk menalikan tali sepatu.
'ibu, aku pamit.'
'pergi dengan siapa kamu nak? pulang jam berapa? Jangan terlalu larut, angin malam tidak bagus untuk kesehatan. Diluar sana banyak bajingan-bajingan yang siap mengintai kamu.'
'aku pergi dengan temanku bu. teman sekolah. sebelum jam 9 malam ini aku berjanji, aku sudah sampai rumah. tenang saja, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dari guruku. aku harap bajingan-bajingan itu akan lari saat mengetahui aku tidak sendirian, tapi bersama malaikat-malaikatku'
tanpa banyak kata, aku meraih tangan ibu. mencium keningnya, juga kedua pipinya. kali ini, otot-otot wajah ibu mengendur tambah banyak. bukan satu atau dua garis. tapi bergaris-garis. aku ingin menghentikan waktu. hingga terus bisa mencium pipi ibu dengan otot-otot wajah yang masih kencang. tapi, waktu tak berpihak pada khayalanku. aku tetap dan akan terus mencintainya. dia, ibuku.
***
siang yang tidak begitu terik. ibukota tidak terlalu berisik. aku melenggangkan kakiku, perlahan, pasti. seberapa pasti? aku tidak bisa memberi prosentase. yang jelas, aku menapaki jalanku dengan pasti. aku harap begitu pula dengan jalan hidup yang kutempuh.
***
aku melihat sepasang kaki dengan sandal jepit berwarna merah-hitam. sedang diayun-ayunkan oleh sang empunya. aku yakin, itu kamu. kamu, yang dulu 19 tahun saat aku 12 tahun, dan kini 23 tahun saat aku 16 tahun. dan kamu yang kini masih menjadi kekasihku.
'ah sarjana macam apa seperti itu. kaos oblong, celana jeans, rambut acak-acakan, keriting, sandal jepit. tapi mengapa gayamu menjatuhkan aku? menginginkan tubuhku untuk hangat dipelukmu. aku rasa, badanmu adalah badan terhangat ketiga setelah bapak dan ibu'
***
hari Minggu, siang telah berganti sore, sore melepaskan ikatannya, malampun bertahta. kalau saja waktu itu orang, aku akan menyumpahi dia dengan kata-kata serapah yang tak enak didengar. ala ibu-ibu kompleks yang menyumpahi anaknya saat mulai berkenalan dengan seorang pelacur. tapi sayang, waktu itu bukan orang. dia adalah waktu, berjalan tanpa mengerti perasaan. menggilas kenangan dan kebersamaan yang tercipta sesaat.
***
(setengah sembilan)
'dek, aku sudah boleh mengantarmu pulang? lalu bertemu ibumu, dan mengenalkanku sebagai pacarmu?'
'jangan, mas'
'aku pikir ibumu sudah mengerti. kamu sudah bukan anak-anak lagi.'
'ibu masih menganggapku sebagai anak-anak usia 12 tahun. bukan remaja usia 16 tahun. ibu masih mencurigai semua lelaki sebagai bajingan.'
'karena bapak?'
'bukan, bukan karena bapak. beliau tidak bajingan, aku harap seperti itu.'
'lalu?'
'sudahlah mas, cium saja keningku, lalu kedua pipiku, aku anggap itu sebagai dirimu yang ke rumah malam ini. berkenalan dengan ibuku. memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'aku harap, tahun depan ....'
'sebelum kamu berusia 24 tahun, kamu bisa datang kerumahku, bertemu ibuku, dan memperkenalkanmu sebagai pacarku.'
'bukan, bukan itu yang akan aku katakan.'
'lalu?'
'aku harap, tahun depan, saat aku berusia 24 tahun, kamu tidak lagi memberiku kado ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. aku, akan menikah tahun depan.'
'dengan siapa? pacarmu selain aku? siapa? aku tidak pernah tahu.'
'bukan, aku tidak punya pacar selain kamu. aku menikah dengan anak perempuan dari kawan lama papaku'
'berbahagialah kamu. kini, cium aku, disini, dikeningku, juga kedua pipiku.'
'kamu tidak marah?'
'sudah lakukan saja !'
***
mataku sudah terlanjur panas menahan tangis. hatiku sudah patah berkeping, menjadi ratusan, ribuan. ah entah berapa keping hatiku hancur.
aku berjalan pulang, sendirian. biar bajingan-bajingan itu mengintaiku. malaikat-malaikat sedang sibuk menghiburku. mungkin mereka lupa untuk menjagaku.
rok tribal, kemeja ceruti, flat shoes, persetan dengan semua ini! aku ingin menggantinya menjadi celana jeans yang robek tepat di lutut, jaket jeans, juga sepatu sneakers. persis 12 tahun lalu, dan kamu 19 tahun.
***
'ibu aku pulang. jangan tanyakan aku mengapa. aku hanya ingin tidur cepat hari ini. aku sudah lelah.'
'nak?'
'selamat malam ibu.'
kukecup kening dan kucium kedua pipinya.
'beruntungnya kau bu, bapak masih setia disana. aku harap dia bukan bajingan. terus menjagamu sampai kau tidak bernyawa,' batinku, dengan senyum memaksa dari bibirku.
'selamat tidur nak. bajingan itu telah lari, malaikatmu menjagamu dengan baik.'
***
kembali aku ke ruang 5x6 m2. ruang yang sama saat aku berusia 12 tahun. hanya saja, kali ini kalimat jimat yang aku lontarkan pada Tuhan selesai berdoa tidak sama.
'aku sudah sampai pada penghujung lelahku, begitupun denganmu. kamu memilih dia dengan alasan yang harus aku terima. aku tidak tahu apakah harus benar-benar terima atau harus .... ah, entah, aku lelah. berbahagialah kamu sarjana berkaos oblong, bersandal jepit merah-hitam, dan berusia 23 tahun, yang tahun depan akan menikah dengan wanita yang lebih ayu dari aku.'
seharusnya aku menolak ajakanmu hari Minggu ini untuk bertemu.
chakiii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar