Selasa, 19 Februari 2013

ranting pinus kemarin sore

soreku menggelayuti sang empunya pagi. memaksa bertahta di hari ini. aku juga bingung mengapa sore cepat sekali merajai. menggulingkan kekuasaan pagi, siang. aah, itu sudah ada yang mengatur.

dan lagi, soreku menutupi kegagahan pinus yang tegak berdiri melawan angin di balik sesuatu yang kerucut dan tertutup rimbun daun yang lain, orang menyebutnya gunung.

aku selalu protes pada sore yang sok menggantikan tahta pagi dan selalu menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.

dan lagi, itu sudah ada yang mengatur. proteskupun bak angin gunung yang hanya bersuara saat ada badai gunung.

'klek!"
ranting pinus yang menancap setia pada tubuh pinus tiba-tiba patah. menandakan betapa rapuhnya dia. kecil, menggigil, sok kuat, sok tegar menghantam angin gunung yang mendadak menjadi musuh. rusuh, tak karuan.

'hih! sore yang keparat!'
lagi, protesku pada sore yang menyeringai bagai serigala yang puas mendapatkan rusa sebagai santapan siangnya.

dan aku menanyakan pada diriku sendiri,
'apa yang bisa aku lakukan?
mengapa hanya memandang?
mengapa hanya berprotes?
oh Tuhaaan'

aku hanya perempuan. perempuan yang hadir dari benih laki-laki yang ditanamkan pada rahim perempuan. yang ditiupkan nyawa setelah beberapa waktu kemudian. yang dibenahi rancangan dengan sebongkah daging dari Tuhan. yang disempurnakan dengan paras yang pas sesuai kehendakNya.

aku hanya perempuan. yang selalu mencari kehangatan dalam sebuah pelukan. yang (kadang) hadir dalam perbincangan perempuan-perempuan tadi siang di kedai tempat biasa perempuan-perempuan itu bertegur sapa, dan berujung bergosip.

aku hanya perempuan, yang tak lain tak bukan adalah ranting pinus kemarin sore

chakiii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar